"Stop arabisasi Indonesia!"

Begitulah ucapan dari seseorang lewat statusnya di media sosial. Kepanasan dia karena muslim Indonesia saat ini terutama aktivis dakwah kampus terlalu banyak dipengaruhi budaya yang menurutnya kearab-araban. Sambil berkata atas nama cinta negeri Indonesia Ia kritisi tindak tanduk sesama muslim dari mulai cara bicara yang diubah menjadi ana, antum, anti hingga gaya berpakaiannya.

"Indonesia ya Indonesia, jangan bawa-bawa budaya Arab ke Indonesia." Katanya dengan heroik. Tunggu sebentar sobat, nampaknya ada yang salah disini...



Kasus serupa tidak jarang kita temui, Saya sendiri sudah pernah bertemu banyak orang tipe seperti ini. Sayang, Saya lebih melihat fenomena tadi sebagai fenomena membenci muslim lain daripada tindakan heroik mengkampanyekan cinta Bumi Pertiwi.

Jika sobat-sobat perhatikan, banyak remaja dan anak muda Indonesia saat ini sangat tergila-gila dengan budaya korea atau masih banyak mengadaptasi budaya-budaya barat dan Amerika. Bahkan pengaruhnya pada diri mereka lebih besar daripada budaya Arab. Tapi apakah orang-orang yang tadi berteriak menyuarakan cinta Indonesia mengkritisi hal ini? Sepertinya tidak. Kalaupun ada yang mengkritisi tidak akan seheboh ketika mereka mengkritisi aktivis dakwah yang bertingkah kearab-araban. Can you see it?

Itulah sebabnya Saya lebih suka menyebut mereka benci kelompok tertentu daripada sok heroik mempropagandakan cinta negeri. Pada akhirnya kesimpulan Saya yang mereka benci justru sesama muslim dari kelompok berbeda, bukan benci terhadap akulturasi budayanya.

Buka mata, buka pikiran seluas-luasnya
Stop menyindir dan membenci sesama
Khawatir dengki sudah akrab dengan diri

Wallahu a'lam

No comments:

Post a Comment