Kondisi Peperangan dalam Film Omar
The Lost Islamic Sunnah - Panggilan perang diumumkan ke berbagai penjuru negeri, semua pria yang dapat berperang diwajibkan untuk ikut serta ke dalam barisan. Kuda-kuda yang tertambat diambil dari kandang-kandangnya, tungku-tungku yang lama padam kembali dinyalakan untuk mengasah kembali pedang yang menumpul, satu per satu serdadu berpamitan dengan keluarganya, meninggalkan pesan dan wasiat untuk mereka yang ditinggal pergi. Mereka pun dikumpulkan, bersiap dengan membawa persenjataan dan perlengkapan yang ada, menyongsong medan peperangan yang tidak mengenal belas kasihan.

Perang pun berkecamuk,
memberikan kerugian yang tidak sedikit bagi kedua belah pihak, pejuang-pejuang tangguh berguguran satu demi satu meninggalkan keluarga mereka dalam keadaan sedih dan bangga, juga meninggalkan kisah heroik yang akan abadi dari masa ke masa. Mereka yang berjuang telah gugur dalam kemuliaan. Prajurit yang tersisa pun kembali dari medan peperangan. Pintu gerbang kota dibuka, mereka masuk dalam keadaan yang lelah, dibalut dengan kain perban disana sini, penuh luka, terkadang ada juga yang kembali dengan anggota badan yang tidak lagi lengkap.

Seperti itulah gambaran yang selama ini kita tau dari sebuah peperangan yang ditampilkan dalam berbagai film bertemakan sejarah dan peperangan, yang juga diceritakan dalam novel-novel. Ya, memang kurang lebih begitulah keadaan dari sebuah peperangan. Tapi ada yang beda dari cerita peperangan yang dilakukan oleh teladan kita :)
"Berangkatlah bekerja dalam keadaan 100%"
Seperti itulah hal yang diajarkan kepada kita selama ini. Berangkat bekerja, berangkat berperang, berangkatlah dalam keadaan 100%, kemudian saat pulang kita kembali kepada keluarga dalam keadaan lelah, habis energi yang dimiliki untuk bercengkrama bersama keluarga.

Dalam sebuah riset yang dilakukan oleh Ust Salim kepada anak-anak dari pegiat dakwah menunjukkan bahwa 30% anak-anak tidak ingin menjadi seperti orang tuanya saat dewasa nanti. Alasannya ialah karena orang tua mereka sudah lelah ketika sampai di rumah dan tidak memiliki waktu untuk belajar dan bermain bersama mereka. Subhaanallah

Kemudian kita pun mengambil pelajaran dari kisah peperangan teladan kita, Muhammad. Setelah peperangan usai, Rasulullah dan rombongan prajurit yang bersama beliau tidak segera pulang dan memasuki kota Madinah. Mereka akan berkemah terlebih dahulu di luar Madinah, lalu para sahabat diperintahkan untuk bercukur, mandi, memakai wewangian, bersiwak, berpenampilan sebaik mungkin sebelum memasuki kota. Sementara itu Rasul mengutus seorang sahabat untuk memberitahu ke kota Madinah kabar kepulangan mereka sehingga keluarga yang berada di rumah dapat mempersiapkan sambutan terbaik untuk para prajurit yang akan kembali ke Madinah.

Begitulah Rasul mencontohkan kepada kita. Berangkat berperang memang penting, namun kembali pulang juga tidak kalah penting dari kepergian. Mengapa? Karena saat pulang yang kita hadapi adalah kesetiaan dan cinta. Maka hendaknya setiap orang tua dapat mencontoh apa yang Rasul dan para sahabatnya lakukan.

Berangkat memang penting
Tapi kembali dalam keadaan terbaik tidak kalah penting :)

No comments:

Post a Comment