“Ha…! Ha….!”
Suara teriakan terdengar seiring dengan derap langkah kuda yang gagah. Teriakan yang ditakuti dunia itu adalah teriakan dari prajurit-prajurit Mongol yang dikenal dengan kebengisannya. Pantas saja nama salah satu pemimpin mereka adalah Bengis Kan… eh salah, maksudnya Genghis Khan. Kekuatan pasukan itu terekam dalam sejarah sebagai pasukan tak tertandingi yang dapat melibas habis kekaisaran China dan kerajaan-kerajaan timur lainnya termasuk salah satu kota Islam yang bernama Baghdad. Pasukan kuda mongol adalah salah satu yang terbaik sepanjang sejarah manusia.

Gengis Khan merupakan salah seorang tokoh fenomenal yang mampu menggerakkan bangsa penggembala ini. Dalam serangkaian penaklukan yang Ia lakukan, Genghis Khan tidak memilih pasukan khusus yang dilatih dalam kamp pelatihan militer untuk ikut serta dalam pasukan utamanya. Ia lebih memilih para pemburu serigala! Konon menurut legenda, hanya serigala saja predator padang rumput yang mampu bertahan di lingkungan ekstrim Mongolia dan serigala pula yang telah menginspirasi bangsa penggembala ini untuk maju.

Supremasi bangsa Mongolia ini barulah pudar ketika pemimpinnya, Genghis Khan mati disusul dengan serangan tak kenal henti dari Khilafah saat itu. Quthuz menjadi salah satu panglima perang Islam yang berhasil memukul mundur mesin pembunuh yang satu ini. Selain itu pemberontakan di berbagai tempat hasil ekspansi militer mereka mulai membuat Mongol kewalahan dalam menanganinya. Kenapa mereka bisa menjadi pasukan yang hebat seperti itu? Konon katanya mereka memahami filosofi berperang dari serigala-serigala Mongolia. Bagaimana bisa serigala Mongolia membuat mereka menjadi mesin pembunuh yang tak tertandingi pada zamannya?

Bangsa Mongolia adalah bangsa yang amat menghargai alam sekitarnya. Mereka juga dikenal sebagai bangsa yang menganut paham totemisme kepada serigala. Apa itu totemisme? Totemisme secara sederhana berarti mengagungkan binatang. Selain menganut paham totemisme mereka juga meyakini adanya Dewa yang senantiasa menjaga mereka, Dewa Tengger namanya. Bagi mereka padang rumput Mongolia adalah tempat yang amat penting dan harus dijaga karena kehidupan bangsa nomaden ini amat bergantung kepada padang rumput Mongolia.


Mongolian Wolf
Steppe Plains of Mongolia
Serigala Mongolia bersarang di dalam gua-gua kecil yang mereka buat sendiri. Tempat tinggal yang mereka buat berukuran kecil dan sangat sempit sehingga hanya bisa dilewati oleh anak kecil saja. Desain yang sempit dan kecil digunakan agar dapat menghindari serangan manusia atau predator besar lainnya yang berupaya masuk ke dalam sarang. Selain itu desain sarang yang mereka buat amatlah cerdas! Serigala Mongolia biasa membuat semacam “bunker” yang dapat dibuka dan ditutup. Apa fungsinya? Bunker tersebut digunakan untuk menghindari serangan manusia yang menggunakan bom asap atau gas beracun lainnya. Selain itu sarang mereka juga dilengkapi dengan “emergency exit”, apabila pintu masuk utama mereka ditutup atau dihadang oleh manusia mereka dapat menggunakan pintu keluar darurat untuk melarikan diri dengan membawa anak-anak mereka. Nah sebagai pelengkap, serigala Mongolia biasa mencari sarang di tempat-tempat tersembunyi yang sulit dijangkau predator lainnya seperti di bukit berbatu, di dekat jurang, dibalik semak-semak tinggi berduri atau di perbukitan terjal.

Serigala Mongolia memiliki banyak keistimewaan yang tidak dimiliki oleh binatang lainnya. Mereka dikenal sebagai hewan pemburu yang cerdas dan tangkas, itulah sebabnya penulis menyebut mereka sebagai serdadu elit padang ruput Mongolia. Setiap keistimewaan yang mereka miliki sangat sesuai dengan lingkungan padang rumput Mongolia yang keras. Sehingga dari sekian banyak predator pemakan daging di Mongolia, hanya serigala Mongolia saja yang dapat bertahan melewati setiap keadaan sulit di padang rumput Mongolia. Tidak akan kita jumpai predator seperti hyena, anjing hutan, cheetah bahkan singa sekalipun.

Keistimewaan pertama yang mereka miliki adalah pendengaran dan penglihatan yang tajam. Mereka dapat mendengarkan gerakan kelinci atau tikus tanah yang amat senang merusak rumput dengan lubang-lubangnya. Penglihatan mereka juga tidak kalah hebat, mereka dapat melihat dengan tajam bahkan dalam kondisi gelap gulita sekalipun. Pantas saja seringkali penduduk Mongolia kecolongan kambing, sapi dan kuda-kuda mereka di malam hari.

Kecerdasan adalah salah satu keistimewaan paling mencolok dari serigala Mongolia. 80% operasi perburuan yang mereka lakukan dapat mencapai keberhasilan karena didukung dengan keistimewaan ini. Bayangkan saja, sebelum mereka pergi berburu, serigala sudah terbiasa untuk mengatur strategi penyerangan dan rute tercepat untuk melarikan diri apabila hal-hal yang tidak diinginkan terjadi. Belajar dari pengalaman! Sebenarnya hal ini yang menjadi kunci keberhasilan mereka. Apabila mereka sudah pernah terkena jebakan yang dibuat oleh manusia atau melihat kawannya yang terkena jebakan tersebut, maka manusia perlu upaya lebih untuk menjebak mereka untuk yang kedua kalinya, akhirnya para pemburu serigala terus melakukan inovasi jebakan. 

Kecerdasan yang baik menghasilkan taktik dan strategi yang cerdas pula. Ketika mereka hendak memburu kuda atau binatang lainnya yang memiliki kecepatan berlari lebih tinggi dari mereka, para serigala lebih memilih untuk menunggu hewan buruannya makan. Dibalik semak-semak mereka terus menunggu saat yang tepat untuk menyerang, yaitu saat perut mangsa mereka penuh dengan makanan. Selain itu, terkadang taktik yang “sadis” juga mereka gunakan untuk menyelamatkan diri. Apabila seekor serigala yang tengah dikejar oleh para pemburu terluka kakinya, ia tidak akan segan-segan untuk menggigit kakinya sendiri hingga putus agar larinya tidak terganggu oleh kakinya yang terseok-seok di tanah.

Serigala Mongolia juga dikenal memiliki kerjasama tim yang solid. Kerjasama yang baik menjadikan mereka dapat terus mempertahankan populasi serigala Mongolia. Biasanya sekawanan serigala yang terdiri dari lima atau lebih serigala dipimpin oleh satu serigala pembesar. Serigala pembesar adalah serigala terkuat, terlincah dan paling cerdas dalam kelompoknya. Apabila serigala pembesar dalam suatu kelompok mati, maka akan digantikan oleh serigala lain yang paling tangguh di kawanannya. Mereka selalu melakukan berbagai operasi mulai dari perburuan hingga mengurus kelompok secara bersama-sama. Kerja tim yang solid ini menjadikan banyak operasi yang mereka lakukan dapat berhasil.

Serigala Mongolia dikenal sebagai serigala dengan solidaritas yang tinggi kepada sesamanya. Apabila dalam suatu kawanan serigala terdapat serigala yang masih kecil, sudah tua atau sakit, mereka akan mencarikan baginya makanan dengan cara mengisi penuh perut mereka dengan daging buruan mereka. Kemudian disaat mereka sudah mencapai sarang, mereka memuntahkan seluruh isi perutnya yang berisi daging buruan untuk dibagikan kepada serigala lain yang tidak mampu ikut dalam perburuan. Selain itu mereka juga tidak dapat meninggalkan begitu saja kawannya yang tengah terluka dalam medan pertempuran, karena bagi mereka seekor serigala dalam satu kawanan amatlah berharga.

Serigala membantu masyarakat padang rumput untuk melestarikan padang rumput purba Mongolia. Secara tidak langsung mereka menjaga padang rumput dengan cara membatasi jumlah ternak agar tidak memakan rumput dengan berlebihan. Caranya? Memburu binatang ternak. Mereka juga membantu menghabiskan hewan ternak yang sudah mati atau membusuk sehingga wabah penyakit dapat dikurangi. Selain itu mereka mengurangi jumlah hama padang rumput seperti marmut, kelinci dan tikus tanah dengan cara memburu hama tersebut dan masih banyak lagi jasa-jasa mereka dalam melestarikan padang rumput purba yang dapat terus bertahan selama berabad-abad.

Epilogue
Saat ini serigala Mongolia tidak dapat lagi ditemukan di dataran China. Populasi mereka mengalami penurunan dengan cepat semenjak tahun 1975 disaat pemerintah China memerintahkan genosida serigala untuk memperluas areal pertanian mereka. Sekarang padang rumput Mongolia Dalam sudah berubah menjadi gurun pasir karena hilangnya “penjaga” padang rumput. Saat ini hanya terdapat sedikit serigala Mongolia di daerah Mongolia Luar.

Note
Tulisan ini bercerita tentang binatang yang Saya kagumi, serigala Mongol. Dahulu tulisan ini dibuat saat Saya SMA untuk dikirimkan ke meja redaksi sebuah majalah dan Alhamdulillah lolos. Kemudian tulisan tersebut Saya copas dengan sedikit perubahan. Biarlah tulisan ini tetap dengan gaya kepenulisan lama Saya haha...

Tulisan ini terinspirasi dari sebuah novel tebal yang berjudul Wolf Totem karya Jiang Rong. Semua keistimewaan serigala Mongol ini Saya rangkum dari buku tersebut tanpa klarifikasi dan tanpa mencari sumber bacaan pendukung lainnya :P

Buku versi Indonesianya diterjemahkan dengan baik dan terkesan tidak asal terjemah seperti yang terjadi pada banyak buku-buku terjemahan. Mantep deh...

No comments:

Post a Comment