Bayangkan sebuah kapal besar sekelas HMS (Her Majesty Ship) tengah berlayar mengarungi samudera. Di dalam kapal tersebut terdapat banyak muatan dan awak kapal. Sayangnya, ada masalah yang menyebabkan kapal besar tersebut karam. Karam bersama semua muatan dan awak kapal yang dibawanya hanya dikarenakan beberapa awak yang berpikir seperti anak-anak.

Konon, dahulu kala ada sebuah kapal besar bernama HMS Casmia. Setiap hendak melakukan pelayaran seorang nahkoda kapal akan memimpin pelayaran yang panjang. Nahkoda dipilih oleh seluruh kru kapal yang akan mengikuti perjalanan. Untuk dapat memimpin sebuah kapal besar maka beberapa pelaut terpilih maju mengajukan dirinya dan beradu kemampuan satu sama lain. Setiap pelaut memberikan impian dan janji besar kepada kru-kru kapal agar Ia dapat menarik simpati awak kapal dan menjadi nahkoda terpilih.

Setelah melalui rangkaian proses panjang akhirnya terpilihlah seorang nahkoda kapal lewat pemilihan yang dilakukan oleh seluruh kru. Namun, dibalik gempita kemenangan seorang nahkoda, terdapat beberapa kru kapal yang dengki dan tidak menyukai kemenangannya. Kemudian kita menamakan keantagonisan mereka sebagai kru pemberontak.

Kemudian raja setempat memberikan misi pelayaran kepada HMS Casmia untuk pergi mencari dunia baru dan mengembangkan wilayah kerajaannya disana. Misi diterima, layar pun dibentangkan, mereka membawa muatan dan awak kapal yang ada, termasuk awak kapal pemberontak tadi.

Rupanya nahkoda kapal tersebut tidak cukup lihai dalam memimpin kapal. Tau dengan ketidakberesan ini, pihak pemberontak justru berusaha melakukan kudeta! Membuat makar agar pelaut yang saat ini menjadi nahkoda dapat digantikan oleh pelaut lainnya. Untungnya hal tersebut tidak terjadi, mereka akhirnya memilih untuk tidak mentaati perintah sang nahkoda. Hanya membantu atas nama keprihatinan kepada teman-teman mereka yang dipimpin nahkoda tadi, bukan karena ingin memajukan dan membangun HMS Casmia bersama-sama.

Suatu ketika kapal mengalami kebakaran diakibatkan koki kapal yang tidak mahir dalam masak. Di tengah kebakaran tersebut beberapa kru kapal berusaha memadamkan api yang menyala-nyala dan mulai membakar benda-benda lain di sekitarnya. Sementara para pemberontak tadi justru mendatangi dapur kapal dan menyalah-nyalahkan koki yang menjadi penyebab terjadinya kebakaran. Api yang sudah jelas melalap habis dapur kapal malah didiamkan saja.

Mereka tau jika kebakaran itu tidak dapat dipadamkan oleh segelintir orang, namun mereka tidak bergerak dan terus menyalah-nyalahkan koki yang menyebabkan kebakaran dan awak kapal lain yang tidak becus dalam memadamkan api.

Singkat cerita, api pun semakin besar dan tidak dapat dikendalikan sehingga membakar dek kapal. Apa yang dilakukan para pemberontak tadi masih saja sama, hanya menyalah-nyalahkan sekitarnya tanpa membantu usaha pemadaman api. Mereka bilang itu bukan urusan mereka, bukan mereka yang memilih nahkoda tadi, menurut mereka penyebab masalah itu adalah sang nahkoda dan koki yang tidak pandai memasak.

Kapal pun tenggelam...
Byur...

Tenggelam bukan karena serangan bajak laut
Bukan pula oleh terjangan ombak dan badai yang ganas
Apalagi karena water sprout yang menerbangkan seisi kapal
Tapi tenggelam karena awak kapalnya sendiri yang egois

Tamat...
That's all folks...
Bad ending...
Nulis apa sih saya...

Menulis cerita dari curhatan seorang pengurus...
Tentang keadaan sebuah organisasi di kampus...
Cerita tentang mereka yang gak memberi solusi...
Justru menjatuhkan dan menciptakan masalah lagi...

Terus saya juga salah karena malah ninggalin kapal itu
Sekarang mencoba untuk bisa mensupport lewat kapal pendukung aja
Tapi kapal pendukungnya juga sedang sulit dikendalikan
Yasudahlah, terus ikhtiar aja, semoga kedepannya jadi lebih baik dan mereka tersadarkan
Aamiin

No comments:

Post a Comment