Suasana kelas mencekam, seorang ustadz berdiri di hadapan para santrinya dengan wajah memerah. Tanpa disangka, emosi meledak di ruang kelas dari seorang ustadz yang dikenal murah senyum. Membuat setiap santri tertunduk malu. Yang tersisa saat itu hanyalah suara kipas kelas. Isak tangis mulai terdengar memecah kesunyian. Sementara beberapa orang tetap terdiam, berusaha menahan air yang mulai terasa membasahi mata.

Pesan dari seorang ustadz itu sederhana,
"Malulah! Kalian nampak baik karena Allah menutup aib-aib yang ada pada diri kalian!"

Setiap diri kita memiliki hal-hal yang nampak dan tersembunyi. Yang nampak kemudian menjadi tolok ukur akan siapa diri kita. Yang tersembunyi sejatinya Allah amankan dari pandangan manusia hingga kita sendiri lah yang menjadikan hal tersebut nampak.

Mengumumkan aib diri adalah hal yang tabu, begitu pula menceritakan aib seudara yang lain...

Teladan kita, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
“Seluruh umatku dimaafkan kecuali al mujaahiriin (orang yang menyebarkan perbuatan maksiatnya). Termasuk ijhaar adalah seorang hamba yang melakukan maksiat pada malam hari. Kemudian pada pagi harinya Allah menutupi aibnya. Namun ia malah berkata: Wahai Fulan. Aku telah melakukan begini dan begini tadi malam. Pada malam hari Allah menutupi aibnya tetapi keesokan harinya ia membuka penutup Allah dari aib dirinya.”
(HR. Imam Bukhari dan Muslim)
Maka menutup aib merupakan bagian dari sunnah, baik aib diri maupun aib saudara sendiri. Dalam hadist lainnya teladan terbaik kita kembali memberikan nasihat kepada umatnya...

"Sembunyikanlah kebaikan-kebaikanmu sebagaimana engkau menyembunyikan keburukan keburukanmu. Janganlah engkau kagum dengan amalan amalanmu, sesungguhnya engkau tidak tahu apakah engkau termasuk orang yang celaka (masuk neraka) atau orang yang bahagia (masuk surga)."
(HR. Imam Al Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman)
Kemudian kita berbangga. Ujub dan penyakit hati semakin akrab dengan diri. Kita terlihat baik karena Allah berkenan menutup aib-aib yang ada. Bahkan tanpa diminta pun Allah sudah merahasiakan busuk dan hina yang kita miliki semua. Lalu, apa yang bisa kita banggakan?
Kemudian Ia pun bertanya-tanya
Terheran dengan apa yang baru saja dibacanya
Tertampar keras, dirinya kemudian berkaca
Kamu tuh pendosa!
Sejatinya kamu jauh dari kata layak untuk dapat diteladani mereka semua!
Jika saja keburukan itu busuk baunya,
Sudah tentu mereka menjauhimu sejauh-jauhnya!
Pendosa!
Jika aibmu ditampakkan di mahsyar yang amat berat keadaannya
Kamu pasti sudah tertunduk malu dengan apa yang kamu lakukan di dunia!
Wahai pendosa!
Taukah kamu kalau memimpin itu berat tanggung jawabnya
Mengapa kamu tidak mundur saja?!
Sementara orang-orang shalih terdzalimi karena dipimpin seorang durjana!
Malulah kamu wahai pendosa!
Allahumma, semoga Allah berkenan melimpahkan berkah dalam faqir dan dhaif kita semua.

No comments:

Post a Comment