Mencintai dakwah mungkin bukan perkara yang mudah
Kecintaan pada dakwah sudah pasti akan membuatmu lelah
Tapi jika saat itu Rasul memilih untuk menyerah saja
Mungkin saat ini Islam tiada pernah dirasakan oleh kita

Jauh pada zaman dahulu kala, sosok itu senantiasa mencintai kita apa adanya. Mencintai kita dengan segala kekurangannya, juga mencintai kita dengan segala kelebihan yang kita punya. Berdirinya Ia di malam hari ada untuk kita, doa-doanya selalu dipanjatkan untuk kita, hingga akhir hayatnya pun yang dipikirkannya adalah kita, umatnya.

Bersyukur kita sebagai umat Islam memiliki sosok seorang Nabi yang amat mencintai umatnya. Nabi yang lahir dari doa tulus seorang Ibrahim, doa yang melanglang buana mengarungi zaman hingga 4000 tahun lamanya.

“Duhai Rabb kami, dan bangkitkan di antara mereka seorang Rasul dari kalangan mereka sendiri; yang akan membacakan atas mereka ayat-ayatMu, mengajarkan Al Kitab dan Al Hikmah, serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkau Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS Al Baqarah [2]: 129)
Doa yang penuh barakah ini kemudian dikenal dengan sebutan doa 4000 tahun. Memang mencintai dakwah dan mencintai umat ini bukanlah hal yang mudah. Banyak masalahnya, sedikit yang mau berjuang bersama, panjang jalannya. Tapi karena cintalah kita tidak boleh berputus asa.

Terakhir, sebagaimana iblis yang sudah Allah laknat untuk berada di neraka selama-lamanya, maka iblis pun dengan keangkuhannya berjanji untuk menyesatkan sebanyak-banyaknya manusia ke dalam neraka. Maka kita, sebagai seorang muslim jauh lebih layak daripada iblis untuk mengajak sebanyak-banyaknya manusia menuju kebaikan.

No comments:

Post a Comment