Kebenaran yang pahit

"Katakanlah kebenaran walaupun itu pahit" 
(H.R.Ahmad. Ibnu Hibban. Al Hakim)

Sering sekali kita dapati beberapa orang yang baru mempelajari agama Islam dan amat bersemangat dalam mengamalkannya lalu bertemu hadist tersebut namun salah dalam memahaminya. "Inilah dakwah kita! Kita harus menyampaikan kebenaran ini kepada semua apa pun risikonya!" Ujar beberapa orang. Ia pun menyampaikan kebenaran dengan membabi buta tanpa menggunakan kaidah yang baik sebab kebenaran harus tersampaikan walau rasanya pahit. Malah kadang kala pahitnya kopi masih lebh nyaman di lidah daripada pahitnya cara menyampaikan kebenaran dari sebagian orang di sekitar kita.

Tunggu dulu, hadist tersebut maknanya bukan seperti itu...

Setelah sebelumnya saya menulis mengenai kesalahpemahaman hadist "Aku sebagaimana prasangka seorang hamba kepada Ku" yang diambil dari tausyah Ust Salim A Fillah, sekarang masih dari narasumber yang sama akan dibahas kesalahpemahaman yang sering terjadi dalam memahami hadist ini :)

Hadist ini dalam beberapa kitab hadits terdapat pada bab tentang tijarah (perdagangan). Hadist ini tidak terdapat pada bab dakwah atau yang semisalnya. Asal usul atau asbabul wurud dari hadist ini adalah

Suatu saat Rasulullah shallalaahu 'alaihi wa sallam bertemu dengan seorang pedagang buah. Melihat pedagang yang berada dalam kebingungan, beliau pun menanyakan keadaannyat. Lalu pedagang buah itu pun menjawab bahwa Ia biasanya memesan buah dari si fulan. Akan tetapi kali ini Ia kecewa dengannya karena kualitas buah yang Ia dapatkan tidak bagus. Lalu Rasulullah shallalaahu 'alaihi wa sallam menjawab, 
"Katakanlah kebenaran walau itu pahit" 
Makna dari hadist ini adalah hendaknya pedagang tadi mengatakan dengan jujur jika buah yang Ia jual saat itu tidak bagus kualitasnya. Bagi seorang pedagang tentunya hal tersebut adalah hal yang pahit karena nilai jual dari buah akan turun akibat cacat yang dimilikinya. Begitulah asbabul wurud dari hadits ini.

Dengan demikian, kita akhirnya dapat mengetahui bahwa mengatakan kebenaran meski itu pahit bermakna mengatakan kebenaran meski pahit bagi yang mengatakan, bukan pahit bagi yang mendengarkan. Maka hendaknya sebagai seorang muslim kita dapat senantiasa memberikan manfaat serta mengingatkan pada kebaikan dengan cara-cara yang baik. Sebab dakwah dari seorang muslim adalah memberi kemanfaatan dengan cara yang indah.

Jika makna dari hadist tersebut adalah seseorang yang mendengarkan kebenaran harus menerimanya meski pahit, maka tentunya redaksi dari hadist tersebut adalah, "Dengarkanlah kebenaran walaupun itu pahit." 

Bagi penulis sendiri, sebenarnya bisa jadi tidak ada kebenaran yang terlalu pahit. Yang pahit adalah cara kita menyampaikannya.

Wallahu a'lam

---------------------------------------------------
Thought on Sunnah Misunderstanding
Pena 1. Aku Sebagaimana Prasangka Hamba-Ku Kepada Ku
Pena 2. Katakan yang Benar Meskipun Pahit

No comments:

Post a Comment