Allah 'azza wa jalla dalam QS. Ar. Ruum ayat ke 21 berfirman,

وَمِنْ ءَايَٰتِهِۦٓ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَٰجًۭا لِّتَسْكُنُوٓا۟ إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةًۭ وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَءَايَٰتٍۢ لِّقَوْمٍۢ يَتَفَكَّرُونَ

“Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.”

Litaskunuu ilaiha  yang terdapat dalam ayat ini sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam At-Thabari dalam tafsirnya Jami’ al-Bayan fi Ta’wil al-Qur’an, makna dari sakinah ada empat. Keempatnya tidak dapat dipisahkan dan ketika keempatnya sudah ada dalam sebuah kehidupan berumah tangga maka sempurnalah sakinah di dalamnya. Keempat pemaknaan sakinah tersebut adalah...


1. Li-tasta'iffu bihaa


Menjaga kesucian diri, yakni dengan kehadiran pasangan maka yang seseorang akan terjaga dari hal-hal yang nista dan berdosa. Maka, makna sakinah yang pertama adalah bukan berarti tidak ada perselisihan, tidak ada pertengkaran. atau masalah, namun terjaminnya kesucian antara satu dengan yang lainnya.

2. Li-ta'thofu ma'ahaa

Membangun ikatan lahir dan batin. Sebagaimana kalimat tauhid laa ilaaha illallah yang menetapkan atas diri kita bahwa tiada ilah yang hak untuk diibadahi selain Allah, terhadap pasangan pun demikian. Kemudian kita menafikan sesembahan lain selain Nya. Penting bagi seseorang untuk memantapkan serta menetapkan baginya bahwa pasangannya adalah satu-satunya tempat yang membawa rahmat Allah dan menjauhkan dari murka Nya.

Rasulullah mengajarkan kepada kita tentang hal ini dari sisi yang paling dzahir. Suatu ketika beliau datang kepada para sahabat kemudian bersabda, "Jika kalian bertemu seorang wanita sebagai penggoda maka pulanglah temui istri kalian. Karena sungguh dalam diri istri kalian ada segala sesuatu yang ada pada wanita penggoda tadi, namun istri kalian halal."

Kemudian makna sakinah yang berikutnya ialah,

3. Li-tamiilu ilaihaa

Timbulnya kecenderungan untuk memikirkan, berbeda saat seseorang tidak memiliki pasangan. Contohnya adalah seseorang saat masih membujang, melihat sebuah gadget baru dan uangnya ada, maka gadget itu akan Ia beli. Saat sudah menikah, meski uang pun ada, Ia tidak akan dengan mudahnya mengeluarkan sesuatu dan akan bertanya-tanya, " Yang di rumah besok akan makan apa, ya? Kompor di rumah sudah harus ganti belum, ya?" dan sebagainya.

Tak heran jika lama kelamaan pasangan dapat saling mengerti tanpa bicara dan saling bicara tanpa kata. Kecenderungan itu bahkan dapat menjadikan seseorang hingga pada seperti ini.

4. Li-tathmainnu bihaa

Supaya merasakan ketentraman ketika bersama dan berpisah. Sebab tidak jarang ada orang-orang yang justru lebih merasa tentram ketika pasangannya tidak ada. Bahkan saking tidak tentram dan was wasnya sampai-sampai di laptop pasangannya dipasang software tracking atau bahkan GPS di mobilnya. Lebay banget, ya?

Wallahu a'lam

Sumber: Seminar Half Deen Universitas Indonesia - Sesi Ustadz Salim A Fillah

No comments:

Post a Comment