Berpisah itu terasa menyedihkan bukan? Tapi tidak semua perpisahan mengharuskan seseorang untuk bersedih. Ada kalanya perpisahan membuat seseorang bersedih karena akan ditinggalkan sosok yang amat dicinta. Sebagaimana Abu Bakr Ash-Shiddiq yang menangis dan berkata, "Ayah dan ibuku sebagai tebusanmu." dikala tahu bahwa tugas nabi telah paripurna dan sebentar lagi beliau akan meninggalkan umatnya. Ada kalanya perpisahan itu harus dipersiapkan dengan sebaik-baiknya. Sebagaimana persiapan kita menghadapi kematian. Namun, ada pula perpisahan yang harus disambut dengan gembira. Seperti halnya perpisahan kita dengan kejahilan yang dahulu kita sempat lakukan.

Memiliki keluarga yang senantiasa memberikan kehangatan adalah hal yang indah, tapi kita pun harus siap berpisah dengan keluarga yang dicinta saat keimanan memerlukan pembuktian. Begitulah ujian cinta. Para sahabat telah mengajarkan makna dari perpisahan ini dengan sebaik-baiknya pada masa awal keislaman mereka. Dengan indah Sa'ad mengentikan mogok makan yang dilakukan oleh ibunda yang sangat disayangi olehnya dengan berkata, "Bunda, seandainya Bunda memiliki seratus nyawa, dan ia keluar satu per satu di hadapan nanda untuk memaksa nanda menanggalkan keyakinan ini, sekali-kali nanda tak akan pernah meninggalkan agama ini selama-lamanya." Bukan Islam yang memisahkan mereka, namun kekufuran telah memisahkan ahlinya dari asih sayang lembut persaudaraan keimanan yang telah bersama diikrarkan di hadapan Rabb pencipta jauh sebelum ruh berkelana di alam dunia.


Memiliki keluarga yang senantiasa memberikan dorongan adalah hal yang indah. Tapi kita pun harus siap untuk berpisah dengan keluarga kita; dengan kedua orang tua yang tidak pernah habis tenaganya, dan tiada pernah berhenti pengorbanannya untuk kita; dengan sanak saudara yang candanya mewaranai sudut-sudut rumah meski terkadang pertengkaran juga ada; dengan nenek kakek yang amat menyayangi cucu-cucunya hingga usianya yang semakin senja. Seringkali do'a untuk nenek ada agar dipanjangkan usianya hingga Ia bisa menyaksikan anak-anaknya pergi berhaji ke Makkah, serta menyaksikan cucunya wisuda dan melengkapi separuh agamanya. Tapi sekali lagi, kita pun harus siap untuk berpisah.

Memiliki sahabat adalah hal yang indah, tapi kita pun harus siap berpisah dengan sahabat-sahabat kita...


"Saat masih ada kesempatan kenapa harus ditinggalkan. 
Selagi masih bisa berkumpul kenapa harus memberikan sejuta alasan..."
~ Faisal Syahri Alwi ~

Usroh GF Farid, Cikeruh 2015
kala saya diberi kesempatan untuk berbicara, saya mengatakan sebuah kesalahan. Saya mengatakan kepada mereka yang hadir kala itu untuk terus menjaga kebersamaan karena kelak mereka akan berpisah dan mungkin akan kesulitan kembali untuk berjumpa kala beranjak dewasa. Padahal sejatinya bagi seorang muslim, kita tidak pernah berpisah. Mungkin saat itu raga kita mengucapkan perpisahan satu sama lainnya, tapi di saat itu pula ruh kita saling menatap dan berjanji bahwa kelak kita akan bertemu kembali dalam pertemuan yang lebih indah. Kita akan bertemu kembali di surga dengan mimbar-mimbar dari cahaya yang membuat iri para nabi dan syuhada.

"Mereka yang saling mencintai karena keagungan-Ku," firman  Allah 'Azza wa Jalla dalam sebuah hadist qudsi, "mempunyai mimbar-mimbar dari cahaya yang diinginkan oleh para nabi dan para syuhada." (H.r. At-Tirmidzi dari Mu'adz ibn Jabal)

we'll meet again soon

Memiliki sosok yang didamba untuk menemani jalan ke surga mungkin adalah hal yang indah. Namanya tak pernah luput dari do'a-do'a. Bahkan buruknya -dan semoga kita terhidar dari hal ini- perbaikan diri pun digantungkan kepadanya. Hingga ketika yang didamba tak kunjung memahami isyarat kita, ketika Allah menuntun Ia untuk tidak bertemu dengan kita, hidup terasa hampa dan hari-hari pun habis dirundung kesedihan. Semangat memperbaiki diri hilang begitu saja. Seperti itukah? Ya, hal itu yang akan terjadi bila kita memberikan cinta yang berlebih kepada makhluk-Nya. Cinta tak harus memiliki, katanya. Sejak awal pun kita bukanlah pemiliknya. Itu sebabnya sosok yang dijadikan sebagai teladan laa syabaab illa 'aliyyan (tiada pemuda melainkan 'Ali) berpesan,

Ahbib habiibaka haunan maa...
"Cintailah orang yang engkau cintai sewajarnya..."
~ 'Ali ibn Abi Thalib ~

Itu sebabnya pula orang-orang shalih terdahulu berpesan agar kita tidak menggantungkan diri kepada makhluk,

“Ketika hatimu terlalu berharap pada seseorang maka Allah timpakan ke atas kamu perihnya sebuah pengharapan supaya kamu mengetahui Allah amat mencemburui hati yang berharap kepada selain-Nya. Maka Allah menghalangi kamu dari perkara tersebut agar kamu kembali berharap hanya kepada-Nya”
~ Imam As-Syafi'i ~

Memiliki impian dan cita yang tinggi kemudian semua terwujud sesuai rencana adalah hal yang indah. Tapi kita pun harus siap untuk berpisah dengan cita itu kala rencana Allah membawa kita pada jalan yang lain. Allah sudah memberikan isyarat bahwa tidak semua cita harus terwujud dalam friman-Nya

"Atau apakah manusia akan mendapatkan segala apa yang dicita-citakannya? 
Maka hanya milik Allah-lah akhirat dan juga dunia."
~ Q.s. An-Najm: 24-25 ~


Tapi setidaknya diri ini bersyukur pernah memiliki cita sebagai seorang dokter sehingga dahulu Ia senang membaca ensiklopedi, mengikuti olimpiade biologi dan menghafal hingga dimarahi penghuni kamar karena lampu harus segera mati. Tapi setidaknya diri ini bersyukur pernah memiliki cita sebagai ahli hadist sehingga dahulu Ia gemar membaca riyadh shalihin, dan menghafalkan hadist-hadist dalam muqarrar Imam Bukhari. Tapi setidaknya diri ini bersyukur pernah memiliki cita-cita sebagai seorang arsitek sehingga dahulu Ia senang menghiasi lemarinya dengan banyak gambar, mengisi bukunya dengan berbagai bentuk bangunan yang pernah Ia temukan di sepanjang jalan atau di dalam internet hingga temannya berkata, "Itu bukan buku catatan tapi buku gambar. Apapun bisa jadi canvas."

Doa istikharah telah mengajarkan kepada kita kepasrahan sepenuhnya akan ketetapan dari Allah 'azza wa jalla. Bahwa kita menyerahkan jalan hidup kita kepada Nya. Berserah diri dengan ilmu Nya, bukan ilmu kita karena ilmu kita amatlah terbatas dibandingkan ilmu Nya yang mencakup segala yang ada di langit dan di bumi. Apa yang bagi hamba Nya baik belumlah pasti sebuah kebaikan. Maka kita pun terus berdo'a agar diberi petunjuk untuk memahami, dan kekuatan hati untuk menerima segala yang akan dan telah terjadi. Berbaik sangkalah! Selalu ada tujuan dari apa yang Allah berikan meski itu berupa ujian dan cobaan. Bukankah musibah pun dapat membawa hamba Nya menuju surga?

Ada kalanya perpisahan itu menuntut kesiapan sebaik-baiknya dari orang yang akan berpisah. Sebab jika tidak maka perpisahan itu akan membawa pada pertemuan berikutnya yang amat menyakitkan dan penuh penyesalan. Ada perpisahan yang akan selalu dilalui oleh setiap makhluk selama berjalan di alam dunia, kematian. Betapa pentingnya kematian ini hingga berkali-kali Allah dan rasul Nya memperingatkan kita agar senantiasa mengingat penghancur kelezatan. Kematian yang terus mengikuti kita di belakang dan dapat menghampiri kita kapan sajalah yang membuat beberapa orang-orang shalih terdahulu selalu mempersiapkan wasiat di balik ranjang tidurnya berisi pesan, warisan hingga catatan hutang dan permintaan maaf kepada orang-orang yang mungkin pernah tersakiti olehnya. Agar ketika ajal tiba, ruhnya dapat dengan tenang menghadap Allah karena tunai sudah semua kewajibannya.

Tapi tidak selamanya perpisahan ini membuat kita selalu berduka. Jika sudah berikhtiar dan mempersiapkan diri untuk menjemputnya, kita pun harus rela berpisah dengan apapun yang dicinta selama di dunia. Sebab Allah tengah menunggu dengan rindu kepada setiap hamba yang beriman kepada Nya dan berusaha untuk istiqamah menapaki jalan para anbiyaa. Begitupun Rasulullah meski teramat besar cintanya kepada umatnya, Ia lebih memilih untuk dapat berjumpa dengan rafiqul a'la.

Dari Nya kita berasal, kepada Nya kita akan kembali
Rabbi, kuatkan hati hamba-hamba Mu dalam menghadapi setiap perpisahan

Kok rada mellow ya :(
Tough life

No comments:

Post a Comment