Kebiasaan menulis nonfiksi sudah menjadi makanan sehari-hari Asa pada tahun 2016. Selain dikarenakan obsesinya untuk bisa menerbitkan sebuah buku sehingga dapat bergabung dengan kafilah penulis proumedia, ia juga menyadari betul bahwa menulis merupakan aset besar yang dapat memberikan manfaat luas kepada umat. Namun, sejak Oktober 2016 kebiasaan menulis ini hilang



9 September 2016 yang lalu qadarullah musibah datang. Handphone dan laptop raib dalam kejadian yang berlangsung tak lebih dari 5 menit. Saat shalat ashar tiba, sekretariat Karisma tempat Asa beraktivitas tidak dikunci oleh orang yang paling terakhir meninggalkan sekre. Hasilnya? 3 laptop dan 3 handphone raib.

Rekaman CCTV tidak mampu melacak siapa pencuri yang memasuki sekretariat Karisma kala itu. Begitu pula keterangan orang-orang sekitar yang lalu lalang di dekat tempat saat kejadian berlangsung. Untungnya ia bukan orang yang berlama-lama pusing akan suatu masalah. Jika ada satu musibah, fokus ke depan. "Berlama-lama dalam galau tidak merubah apa-apa," pikirnya.

Hal yang disayangkan dari hilangnya laptop dan handphone bukan soal harga laptop maupun handphonenya. Sebab alhamdulillah, tidak lebih dari satu bulan, Asa bisa membeli kembali laptop dan handphone untuk mengerjakan aktivitasnya lagi. Hal yang jauh lebih berharga daripada laptop dan handphonenya lah yang penting.


  1. Naskah buku "Laskar Imani" setebal 380an halaman yang rencananya akan diberikan kepada proumedia di bulan november
  2. Project desain dari banyak klien
  3. Dokumentasi kegiatan selama 5 tahun ke belakang
  4. Dokumen lomba
  5. Koleksi rekaman kajian yang selalu dihadiri
  6. Catatan digital dari kajian dan majelis ilmu
  7. Tugas akhir


Dan masih banyak lagi. Alhamdulillah dokumen tugas akhir dapat diamankan sebab selalu dikirim secara berkala kepada dosen setiap kali ada kemajuan yang berarti. Setidaknya ia tidak perlu menulis ulang kembali semua penelitian yang sudah ia kerjakan walau saat itu kemajuan penelitiannya belum cukup jauh.

Hal yang saya pelajari dari musibah ini banyak. Saya amat teringat pesan dari salah seorang gurunya dalam sebuah kajian, "Bukti dari keberkahan sesuatu dapat terlihat dari meningkat atau menurunnya ketakwaan. Jika sesuatu itu membuat ketakwaan bertambah maka bisa jadi ia merupakan wasilah keberkahan. Sebaliknya, jika hal itu justru menjauhkan diri dari takwa maka bisa jadi hal itu memang tidak diberkahi."

Dan ternyata benar apa kata gurunya. Memang saat barang tersebut hilang adalah saat dimana ia sedang hobi-hobinya menonton video youtube dari channel pewdiepie. Ketika biasanya malam hari bisa digunakan untuk membaca, ia justru menyibukkan diri dengan menonton video baru pewdiepie. Memang videonya cukup menghibur, tapi ia amat melalaikan walau tidak sampai pada melalaikan hal yang wajib. Jam tilawah ikut berkurang. Hilanglah keberkahannya dan segera Allah cabut agar ia kembali disibukkan dengan kebaikan.

Pun demikian, meski sudah memiliki laptop dan handphone yang baru, butuh waktu cukup lama untuk bisa kembali menulis. Energi aktivasi untuk menyelesaikan naskah buku ternyata amat tinggi sementara kepercayaan dirinya dalam menulis semakin berkurang sejalan dengan semakin banyaknya ilmu yang ia dapat. "Ilmu kamu masih sedikit lalu ingin menulis buku? Jangan bercanda," pikirnya

Akhirnya naskah buku berhenti pada halaman ke 67

Pada bulan januari 2017, sejalan dengan cita-cita yang ia berikan kepada langit, ia berazzam untuk bisa menjadi peserta SPI Moh Natsir terbaik walau saat itu ia belum tau seperti apa medan juang SPI. Setelah ia mengikuti satu per satu kelasnya, nampak sudah kualitas dirinya, payah. Masih jauh daripada peserta SPI yang lainnya. Pun demikian ternyata kemampuan jurnalistik Asa masih sangat berguna untuk digunakan dalam tugas reportase SPI. Akhirnya, alhamdulillah pada beberapa pertemuan Asa diberikan izin oleh Allah untuk bisa menjadi penulis reportase terbaik. Endingnya pun amat ia syukuri.

Pada penutupan sekaligus pelantikan peserta SPI yang layak maju ke tahap berikutnya, Ia menjadi penulis terbaik dalam SPI angkatan ketiga semester satu. Alhamdulillah, tabaarak Ar-Rahmaan. Meski ia sadar bahwa prestasi ini lebih layak disebut sebagai jurnalis terbaik, bukan pemikir terbaik di SPI Bandung angkatan ketiga tapi nikmat ini sudah cukup kuat untuk mengembalikan semangat menulisnya

Semoga anugerah ini menjadi kebaikan dan keberkahan
Menghidupkan kebaikan yang lain
Menjadikannya ruah
Membawa kemanfaatan kepada umat seluruhnya

Allahumma, jika menjadi penulis itu merupakan kebaikan bagi Asa, kebaikan bagi hidupnya dan kebaikan bagi agamanya maka ia tidak keberatan jika Engkau mudahkan jalan ia untuk menempuhnya

Hatur nuhun SPI Moh Natsir Bandung

No comments:

Post a Comment