Diantara tanda keseriusan seseorang akan cita-citanya menjadi bagian dari pembebas masjidil Aqsha adalah memahami ilmu mengenai masjidil Aqsha. Baca sejarah singkat masjidil Aqsha dalam tulisan yang diambil dari tausyah Ustadz Salim A Fillah dengan tema Al Aqsha Menanti Al Aqsha berikut...


Nama Aqsha diberikan Allah dalam Al-Quran surat Al Isra yakni ketika peristiwa isra' dan mi'raj. Nama Baitul Maqdis sendiri sering digunakan untuk menyebutkan nama masjid sekaligus kotanya.

Prof. Dr. Abd Al-Fattah El-Awaisi dari Islamic Yerussalem Research Academy menyarankan pemakaian kata Baitul Maqdis diatas nama Al-Quds. Berdasarkan penelitian yang beliau lakukan, nama Al-Quds diberikan oleh Ahmad ibn Abi Du'ad, seorang menteri pada zaman khalifah Al Mu’tashim. Ia merupakan tokoh dengan pemahaman mu’tazilah. Menteri ini menjadi salah satu tokoh dibalik penyiksaan Imam Ahmad dan ulama yang lain di masa-masa mihnah. Daripada menisbatkan sesuatu pada gagasan tokoh yang bermasalah, akan lebih baik ketika kita kembalikan penggunaan kata Al-Quds kepada Baitul Maqdis atau masjidil Aqsha.

Apa Saja Batas Baitul Maqdis?


Al Quran surat Al-Isra' ayat pertama menggunakan kata "subhaana" untuk mengawali cerita perjalanan Nabi Muhammad. Subhaana dalam bahasa Arab banyak digunakan untuk mensucikan sesuatu dari hal yang buruk. Disebut subhaanalladzii asraa bi’abdihi karena perjalanannya sempurna bebas dari aib sebab Allah langsung yang mengatur perjalanan tersebut.

Perjalanan Rasul sudah Allah atur bahkan sebelum Rasul diperjalankan pada isra' dan mi'raj. Beliau telah lebih dulu Allah bersihkan dari huzn dan khauf yang masyhur pada kisah dibelahnya dada nabi di saat beliau masih kecil.

Perjalanan menggunakan Buraq, kendaraan yang membawa Rasul pada perjalana isra' dan mi'raj digambarkan oleh Rasulullah dengan penggambaran bahwa kecepatan kendaraan itu sejauh pandangan mata. Itu sebabnya disebut Buraq sebab berasal dari akar kata Barq yang bermakna kilat. Ada beberapa pendapat yang mengatakan bahwa Rasulullah melakukan perjalanan dengan menggunakan Buraq di angkasa, namun demikian pendapat dari Syaikh Mukhlis Yahya Barzaq cukup berbeda. Beliau mengatakan, 
Saya memaknai ini sebagai perjalanan yang dilakukan di darat. Sebab saat Rasulullah ditanya oleh orang-orang Quraisy mengenai perjalanan beliau maka Rasulullah bisa menggambarkan masjidil Aqsha dengan detil dan juga dapat bercerita tentang pertemuan beliau dengan kafilah dagang di sepanjang perjalanan. Beliau dapat menceritakan dengan amat detail jumlah unta, barang apa saja yang dibawanya, bentuk tubuh dari orang yang membawanya, bahkan bisa memprediksi jarak perjalanan mereka dengan mengatakan, "mereka akan sampai di Makkah dua pekan lagi.”
Dalam keterangan yang Rasul berikan, beliau mensifati Masjidil Aqsha dengan menggunakan gerbang-gerbangnya. Semua bagian yang meliputi “bawwaaabah” disebut Al-Haraam Asy-Syariif. Luasnya lebih besar daripada luas Masjid Nabawi. Pada wilayah tersebut terdapat Dome of the rock  yang berkubah emas dan Masjid Qibli yang berkubah perak. Sebagai gambaran luas masjid tersebut, jumlah nabi dan rasul yang diriwayatkan dalam hadist sebanyak 124 ribu orang. Nabi Muhammad shalat bersama mereka di Masjidil Aqsha pada saat perjalanan Isra'.

Apa itu Dome of The Rock?

Sejarah pembangunannya dilakukan pada masa Umar ibn Khattab untuk menutupi sebuah batu yang diduga menjadi batu tempat Buraq melesat dari bumi menuju sidratul muntaha. Menurut riwayat israiliyat: Di batu itu pula Ibrahim menyembelih Isma'il, nabi Musa menerima wahyu, dan Nabi Isa berkhutbah. Bangunan yang dibuat pada masa Umar sangat sederhana sekadar untuk menutupi batu tersebut dari luar agar umat tidak bersikap ghuluw dalam memperlakukan batu tersebut. Baru pada kemudian hari, Abdul Malik ibn Marwan salah seorang khalifah pada masa Umayyah membangun sebuah bangunan segi 8 yang cantik bertahtakan kubah emas. 

Lalu apa Nama Masjid Lain yang Ada di Komplek Masjidil Aqsha?

Setelah menentukan pembangunan masjid Dome of The Rock, 'Umar ibn Khattab bertanya kepada sekitarnya,

"Dimana arah kiblat?"
"Menghadap sebelah Selatan"

Maka saat itu pula 'Umar menentukan tempat pembangunan sebuah masjid yang mengarah ke arah kiblat sehingga masjid tersebut diberi nama sebagai masjid qibly, masjid yang mengarah ke arah kiblat.

Jika Begitu, Lalu Apa yang Dimaksud Dengan Al-Aqsha?

Adapun Al-Aqsha maknanya ialah ab’ad = yang lebih jauh. Jika terdapat tempat yang lebih jauh, maka tentu terdapat masjid yang letaknya jauh, ada pula masjid yang paling jauh. Dahulu Rasulullah mengira tempat itu adalah Thaif atau Yamamah, tapi ternyata dia adalah Madinah. Sehingga dibangunlah sebuah masjid yang dapat disebut sebagai Masjid Al-Qashiyy, yakni Masjid Nabawi. 

Dengan demikian surat Al Isra mengandung kisah tentang 3 masjid: Masjid Haram, Masjid Qashy yakni Masjid Nabawi dan Masjid Al-Aqsha yakni Baitul Maqdis.

Sumber: Al Aqsha menanti Al Aqsha, Ustadz Salim A Fillah
Masjid Baiturrahman, 5 Agustus 2017

No comments:

Post a Comment