Pada suatu ketika, dalam sebuah kesempatan seorang Ibu bertanya kepada bang Adriano Rusfi. Ia mengeluhkan tentang keadaan anaknya yang sudah setiap waktu diberikan berbagai wejangan, diberikan pendidikan akhlaq, diberikan ilmu tentang menjadi muslim yang baik, tapi semua itu berubah saat ia memiliki pacar. Ia bahkan seringkali didapati lebih mengutamakan pacarnya bila dibandingkan dengan perintah bundanya sendiri.

Mendengar keluhan itu, tanpa perlu berpikir panjang bang Aad langsung menjawab pertanyaannya dengan jawaban yang menarik.

"Ibu didik anaknya agar ia mencintai Islam karena cinta adalah kekuatan terhebat yang mampu mengalahkan apapun. Jika anak sudah mencintai Islam maka gak bakal tuh dia dengan mudah digoda oleh seorang pacar. Sayangnya selama ini ternyata ia kurang mencintai Islam sehingga cintanya kepada pacar mengalahkan kecintaannya kepada Islam."

Cinta hanya bisa dikalahkan dengan cinta yang lebih kuat!

Mendidik anak agar mencintai Islam dan ajarannya. Menarik ya. Bagaimana cara kita mengajak anak melihat betapa indahnya Islam sehingga ia dapat mencintainya?

Pendidikan agama dapat meresap kedalam hati seorang pemeluknya tidak dengan model pendidikan dikte, terlebih jika sasaran pendidikan ini adalah seorang anak. Terdapat alasan tersendiri mengapa pendidikan agama dapat memberikan makna lebih kepada anak kala diajarkan oleh Ayah. Sebab Ayah adalah seorang silent educator. Ia tidak banyak mendikte namun memberikan kepada anak keindahan Islam melalui praktik dan keteladanan yang ia berikan di lingkungan rumahnya.

Maka kalimat khas yang diberikan oleh Ayah bukan "ayo" dan "jangan" akan tetapi dalam aktivitasnya ia memberi pelajaran kepada anak bagaimana cara mempraktikkan agama dengan baik. Jika agama disampaikan berlebihan kepada seorang anak melalui metode dikte maka yang akan terjadi ialah lama kelamaan ia menjadi mabuk dengan ajarannya. Sebab ia akan merasa Islam hanya terdiri dari apa yang halal dan haram, dosa dan pahala, boleh dan tidak, semua berbau aturan. Padahal kita dapat memaknainya lebih dalam lagi.

Ia juga mengajarkan patriotisme, jiwa ksatria. Menghidupkan nilai persahabatan dan kemanusiaan. Ia menjaga kemuliaan. Maka wahai Ayah Bunda, ceritakanlah kepada anak bagaimana kisah para sahabat, nabi dan orang-orang terdahulu agar mereka belajar bahwa Islam dapat membentuk seseorang menjadi setangguh mereka. Sehingga mereka pun tertarik untuk mempelajari dan meneladani kebaikan yang dimiliki tokoh-tokoh emas itu.

Ajak anak untuk memahami bagaimana rahmat dan kasih Allah. Ajarkan bahwa rahmat Nya lebih besar daripada murka Nya. Ceritakan bagaimana Allah mendekat kepada hamba Nya dengan lebih sungguh sungguh daripada usaha seorang hamba dalam mendekatkan diri kepada Allah. Beri gambaran kepada mereka tentang indahnya berbaik sangka kepada Nya. Sampaikan bentuk-bentuk kasih sayan Nya kepada umat manusia. Ya, ajak mereka mengenal Allah.

Punya ide lain untuk menumbuhkan rasa cinta anak kepada agamanya? Leave your thoughts in the comments :)

No comments:

Post a Comment