Setelah dalam tulisan sebelumnya memahami bagaimana peran Ayah sebagai seorang arsitek visi keluarga, lalu bagaimana cara seorang Ayah merancangnya? Apa bahan-bahan yang diperlukan untuk menentukan visi sebuah keluarga? Sebelum masuk ke dalam pembahasan bahan-bahan, ada hal yang perlu diselesaikan terlebih dahulu.
Clear-kan definisi visi dan misi. Jangan sampai dalam perumusannya, keluarga tidak memahami apa itu visi dan misi. Maka orang yang pertama harus memahami apa itu visi dan apa itu misi adalah sang Ayah. Jangan sampai juga ia merancang sebuah bangunan tanpa mengetahui hal apa yang tengah ia kerjakan.

Secara garis besar terdapat beberapa bahan (variabel) yang dapat digunakan untuk menentukan visi sebuah keluarga, bahan ini pun masih dapat digali dan dilengkapi lebih jauh:
  1. Variabel Individu
  2. Variabel Sosial
  3. Variabel Pertemuan

Variabel Individu

Kajilah bagaimana diri sendiri dan bagaimana pasangan. Pahami siapa diri kita, bagaimana karakter masing-masing, bagaimana perjalanan hidup yang sudah dilalui hingga sekarang, cobaan apa yang Allah berikan untuk menempa individu menjadi lebih kuat dsb. 

Mengapa cobaan bisa menjadi salah satu bahan merumuskan visi? Sebab cobaan yang datang dari Allah menggambarkan kepada kita mengenai potensi diri serta hal apa yang tersembunyi dibaliknya. Ia adalah psikotes dari Allah bagi hamba-Nya. Sayangnya, kita tidak pernah menggali dengan serius hikmah dari setiap cobaan.

Variabel Sosial

Contohnya adalah keadaan budaya di sekitar kita. Apa budaya yang berkembang? Bagaimana nilai yang diajarkan olehnya? Apa prinsip hidup yang dipegang teguh?

Variabel Pertemuan

Pertanyaan yang muncul dari variabel ini adalah apa yang dahulu membuat keduanya menentukan hidup sebagai pasangan? Kita mengenal beberapa hukum yang dapat mempertemukan dua orang manusia: 
  1. Similarity, apakah dikarenakan banyaknya kesamaan yang keduanya miliki sehingga keduanya merasa cocok satu sama lain dengan hubungan semakin menguatkan?
  2. Contrast, apakah justru dikarenakan banyaknya perbedaan maka keduanya merasa cocok dengan hubungan saling melengkapi?
  3. Proximity
  4. Physical attractiveness, apakah karena pesona fisiknya? Tapi untuk yang terakhir ini penulis amat tidak merekomendasikan hubungan yang dibangun atas dasar kesempurnaan fisik. Sebab fisik dapat memudar seiring berjalannya waktu sementara itu akan ditemukan orang-orang lain dengan kesempurnaan fisik lebih daripada pasangan yang semakin menua. Jika fisik menjadi alasan utama, tentu godaannya akan amat berat.
Punya cara lain dalam merumuskan visi dan misi keluarga? Leave your thoughts in the comments :)

--------------------------------
Majelis Luqmanul Hakim
Pena 1. Dicari, Lelaki Luqmanul Hakim
Pena 2. Luqmanul Hakim dan Peran Ayah dalam Pendidikan Anak
Pena 3 Ayah, Arsitek Visi Keluarga
   - Merancang Visi Keluarga
Pena 4. Pendidikan Iman
   - Metode Pendidikan Iman kepada Anak
   - Membangun Mahabbatullah
Pena 5. Sang Raja Tega
Pena 6. Konsultan Bunda
Pena 7. Pendidik Kemandirian
Pena 8. Penanggungjawab Pendidikan
Pena 9. Pendidik Sistem Berpikir
Pena 10. Pendidik Kewirausahaan
Pena 11. Smart Mencari Nafkah

No comments:

Post a Comment