KARISMA ITB merupakan salah satu organisasi tertua yang ada di Masjid Salman ITB. Geraknya mewarnai pergerakan pemuda di kota Bandung hingga saat ini. Sebagai sebuah organisasi yang berusia cukup senior, organisasi ini tentu telah melalui berbagai macam proses jatuh bangun hingga peristiwa-peristiwa yang menempanya hingga bisa menjadi seperti sekarang. Bagaimana sejarah dari organisasi ini? Apa yang mengawali pendiriannya?

KARISMA (Keluarga Remaja Islam Salman) berdiri sejak 15 Maret 1981. Ide awal pendiriannya ingin berusaha menarik remaja sebanyak mungkin ke masjid dan mengisi hari-harinya dengan kegiatan positif, tidak sekedar kegiatan hura-hura seperti balapan motor di Jalan Dago. Saat itu Masjid Salman menjadi salah satu pusat dakwah remaja di Kota Bandung.

Periode 1981 – 1990an

Metode pembinaan yang digunakan pertama kali oleh KARISMA adalah mentoring. Metode tersebut berbasis pada metode diskusi bebas yang dipakai mahasiswa dengan didukung oleh multimedia, mengingat sebagian pembina KARISMA saat itupun adalah mahasiswa ITB. Mentoring merupakan sebuah terobosan baru dan diperkirakan mencapai puncak kejayaan pada tahun 1986 KARISMA mendapat penghargaan pada salah satu program yang diselenggarakan UNICEF. Namun setelah itu, produk mentoring mulai mengalami stagnansi dan pelahan-lahan mengalami kemunduran. Nuansa ini mulai terasa di tahun 1990-an, dimana saat itu Harokah N-11 (KW 9) dengan gencar menginfiltrasi Salman termasuk KARISMA. Selain itu juga, role model mentoring KARISMA mulai bisa ditiru dengan mapan oleh pihak-pihak yang lain di berbagai tempat di Indonesia, termasuk di luar Jawa. Pihak-pihak selain KARISMA melakukan penyesuaian tersendiri atas produk mentoring tersebut. Penurunan mentoring di KARISMA bisa terlihat jelas dari penurunan jumlah adik yang dibina KARISMA.

Periode 1990an – 2000an

Jumlah adik yang terus menurun menimbulkan kebingungan bagi KARISMA. Akhirnya berkembanglah isu baru yaitu “KARISMA akan dibubarkan!”. Setelah diskusi panjang dan melelahkan serta perjuangan mati-matian dari Badan Pekerja SU 15, akhirnya KARISMA pun terselamatkan. Dan kemudian disimpulkan bahwa KARISMA harus mulai melihat metodologi pembinaan lain selain mentoring, dalam hal ini melihat banyak ke literatur Barat yang banyak menggunakan metodologi pelatihan atau training. Maka sejak tahun 1995, dirintislah metode training di KARISMA.

Para pembina saat itu sadar bahwa produk bisa berupa metode apa saja yang terbaru dan harus terus diriset. Mulai tumbuhlah kesadaran bahwa sudah seharusnya KARISMA membangun Jaringan dengan organisasi-organisasi sejenis dengan KARISMA agar pembinaan keislaman bagi remaja Bandung bisa dikoordinasi lebih baik lagi. Hal itu menjadi titik balik KARISMA, meskipun masih berada pada nuansa pencarian format terbaik. Bahkan saat itu sempat menyusun RJPK (Rencana Jangka Panjang KARISMA). Strategi besar KARISMA ditegaskan pada SU 17 (1997), yaitu:
  1. Consumer Focus (Fokus pada remaja sebagai “konsumen” KARISMA).
  2. Diversifikasi Metodologi (Penganekaragaman metodologi pembinaan).
  3. Networking (Berusaha mulai membangun Jaringan).
Pada SU 19 dengan menyepakati Konsep Pembinaan yang baru, dengan 3 bagian besar, yaitu pertama filosofis, dengan perubahan pada tujuan KARISMA (dari “Menuju Generasi Rabbi Radliya” menjadi “Membentuk Generasi Rabbani yang seimbang iman, ilmu, dan amal”), kemudian memunculkan Visi KARISMA, serta 3 lini dakwah KARISMA yaitu dakwah pengenalan, pembentukan, dan amal kemasyarakatan. Konsep Pembinaan Remaja dibuat tidak seperti sebelum yang spesifik mengarah pada sebuah produk pembinaan remaja. Pembaruan yang dilakukan dibuat secara fleksibel dengan hanya membatasi norma-norma yang harus diperhatikan saat membina remaja. Konsep Pembinaan Pembina yang mengubah paradigma penerimaan pembina baru hanya dalam rangkaian training singkat selama 1 bulan, dengan menyusun Alur Pembinaan Pembina yang baru dan sistematis.

Fondasi baru ini cukup mengokohkan langkah KARISMA selanjutnya di Periode 19 saat membuka kembali pendaftaran pembinaan rutin adik. Tapi ternyata bangunan pondasi itu belum lengkap. Maka Badan Pekerja SU 20, melakukan usaha perombakan atas landasan dasar organisasi KARISMA yaitu Tatibdas (Tata Tertib Dasar) dan Tatib-tatib lainnya menjadi AD/ART KARISMA, serta melakukan usaha penelitian intensif akan kemungkinan dakwah eksternal dengan alat Jaringan dan usaha-usaha awal kepada semua pihak terkait.

Periode 2000an - 2010

Pada SU 20 (2000) disepakati bahwa arah gerak utama KARISMA adalah dakwah eksternal dengan berusaha membangun jaringan, serta berusaha membangun kesetimbangan dengan Pembinaan Rutin, mengingat resistensi pembina saat itu masih cukup besar. Pandangan atas produk pun direvolusionerkan sehingga KARISMA pun mengeksplorasi ide produk baru yang menghasilkan cukup banyak produk yang masuk dalam Bank Produk KARISMA. Modifikasi banyak dilakukan atas Pembinaan Rutin Adik yang sebelumnya lebih banyak menggunakan metode mentoring.

Pondasi KARISMA hampir lengkap untuk memandang masa depan dakwah remaja bagi KARISMA sendiri. Di SU 21, karena keraguan atas Jaringan masih cukup besar maka diadakan perubahan strategi yang signifikan terutama dalam penanganan langsung pada Jaringan Adik-Adik Aktivis DKM/Rohis yang menjadi bersifat pilot project. Usaha menyeimbangkan Jaringan dan Pembinaan Langsung disepakati di SU 21 (2001) dengan menetapkan target yang lebih realistis, dalam hal ini Jaringan akan mengalami reduksi yang besar.

Tapi setelah dilihat ulang, ternyata hal ini justru tidak berpandangan jauh ke depan. Keprihatinan atas hampir macet totalnya aktivitas Jaringan di Periode 21 Semester 1 pun muncul, apalagi tidak ada pandangan global atas Jaringan saat itu, yang menyangkut masa depan KARISMA juga. Maka disusunlah Desain Produk “Jaringan Rohis SMU & SMK se-Bandung” serta diselesaikanlah Proposal Besar Jaringan yang menandai pembalikan kembali, sekaligus mengawali penyusunan pandangan jangka panjang atas potensi Jaringan untuk KARISMA masa depan. Pada beberapa tahun berikutnya, isu pengembangan jaringan ini masih begitu populer di KARISMA.

Salah satu pencapaian mengenai jaringan adik ini adalah terbentuknya Hiroba (Himpunan Rohis Bandung) pada 2005 dan kemudian menjadi Hirokoba (Himpunan Rohis Kota Bandung) pada 2008. Hirokoba beranggotakan pelajar-pelajar Rohis SMA dengan memiliki ketua yang dipilih setiap tahunnya. Ketua tersebut terpilih bersamaan dengan kepengurusan baru yang dilakukan lewat acara Basic Training. Meskipun belum berjalan dengan optimal, namun Hirokoba ini bisa menjadi wadah potensial untuk menjalin hubungan antar Rohis, pembinaan pelajar Rohis, dan syiar kepada pelajar SMA lainnya. Beberapa tahun setelahnya mulai banyak bermunculan bentuk jaringan-jaringan Rohis sejenis dengan memiliki tujuan dan pembinanya masing-masing.

Periode 2010an

KARISMA telah menginjak usia lebih dari tiga dasawarsa. Zaman terus berubah dan KARISMA pun harus melakukan penyesuaian agar tidak tertinggal. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi membuat dakwah KARISMA mulai merambah ke media maya. KARISMA mulai memanfaatkan berbagai media sosial dan fasilitas internet lainnya untuk melebarkan dakwah Islam. Pembenahan internal KARISMA terus dilakukan dengan mengkaji Konsep Pembinaan yang dimiliki. KPP dan KPR terus direvisi. Berbagai pembenahan dilakukan jika dirasa sudah tidak sesuai. Pada 2015 KARISMA memutuskan untuk melakukan pemisahan kembali (dahulu sempat menjadi satu dokumen) antara Konsep Pembinaan dan GBPK. Hal itu bertujuan untuk membuat landasan dan arah gerak KARISMA lebih jelas dan sistematis. Arah gerak KARISMA untuk satu tahun juga dipisahkan menjadi GBPK yang berisi intisari program KARISMA dan skenario dakwah yang berisi penguraian dari GBPK.

Program pembinaan rutin bagi remaja terus dilaksanakan dengan variasi bimbel, peminatan, dan kepemimpinan dengan tetap mengedepankan mentoring. Sementara itu program untuk menjangkau remaja yang bukan adik binaan adalah melalui acara-acara besar dan training. Selain itu, KARISMA telah memulai perintisan kembali hubungan dengan pihak-pihak yang bisa mendukung program dakwah KARISMA. Diantaranya adalah dengan Dinas Pendidikan, organisasiorganisasi yang mewadahi pengurus Rohis atau ekstrakulikuler, dan komunitas-komunitas lainnya. Dari waktu ke waktu, KARISMA akan terus berupaya menerangi dan mengarahkan para remaja di negeri ini. Walaupun langkah yang dilakukan kadang tertatih dan penuh terhambat, hal itu tidak menyurutkan mimpi kami untuk menyongsong terbentuknya Generasi Rabbani yang seimbang dalam iman, ilmu, dan amal serta mampu menjadi rahmat bagi sekalian alam.

Source: Dokumen Konsep Pembinaan 1436 H Karisma ITB

No comments:

Post a Comment