Pernah mendengar Sekolah Pemikiran Islam (SPI) Moh Natsir Bandung? SPI pada awalnya merupakan gagasan yang dibentuk dengan tujuan menjadi lembaga pendidikan yang mengembalikan tradisi keilmuan Islam untuk membangkitkan peradaban. Tema-tema khusus diangkat untuk bisa membekali peserta dengan worldview yang benar dalam berislam. Dengan demikian diharapkan mereka dapat membantu menjaga muslim lainnya dan membuat counter opinion terhadap gagasan lawan. Berat?

Ujar pak Anies Baswedan dalam sebuah kesempatan, ringan atau berat itu tergantung bagaimana kita merasakan hal tersebut. Akan tetapi soal besar dan kecil, di sana ada ukurannya. Adapun hal hal yang dibahas dalam SPI tentu merupakan hal yang besar.

Dalam sebuah kesempatan, kang Ibam sebagai kepala sekolah SPI angkatan ketiga membahasakan SPI dengan kegiatan

"Kuliah yang tidak berat tapi benar-benar membutuhkan perhatian untuk dapat memahaminya." 

Apa saja sih yang dilakukan dalam SPI?

Penulis merupakan peserta SPI Moh Natsir angkatan ketiga. SPI sendiri terdiri dari berbagai cabang di Indonesia yang mengangkat nama seorang tokoh untuk membedakan regional masing-masing. SPI Jakarta dan sekitarnya disebut sebagai SPI Fatahillah, sementara SPI Bandung disebut sebagai SPI Moh Natsir. Kesemuanya bergerak dibawah koordinasi SPI Indonesia.

Sebagaimana namanya, SPI Moh Natsir adalah sekolah. Itu sebabnya sistem yang dipakai bak kuliah kita di bangku perguruan tinggi: Ada presensi, ada tugas, ada kurikulum dan ada konsekuensi atas ketidaktaatan terhadap aturan, ada kelulusan dan ada ketidaklulusan.

Peserta harus membelanjakan sejumlah uang di jalan Allah untuk bisa memperoleh fasilitas ilmu yang istimewa selama satu semester. Kenapa disebut istimewa? Sebab materi yang dibahas dalam SPI memang bukan materi yang akan kamu dapatkan dalam kajian-kajian biasa, terlebih di ruang kelas. Pemateri yang didatangkan pun merupakan pakar di bidangnya masing-masing. Kita akan bertemu dengan banyak asaatidz dari INSIST, PIMPIN dan institut pemikiran lainnya. Pada angkatan ketiga, kami membelanjakan 200 ribu rupiah untuk dapat memperoleh satu kursi selama satu semester dengan fasilitas berupa kelas di sebuah ruangan serba guna hotel d'Best Sofia Teuku Umar.

Semester pertama terdiri dari 10 pertemuan dengan materi:
  1. Pendahuluan
  2. Ghazwul fikr
  3. The worldview of Islam
  4. Jurnalistik dasar
  5. Tauhidullah
  6. Konsep diri
  7. Wahyu dan kenabian
  8. Diskusi literasi
  9. Masyarakat jahiliyah
  10. Adab
Semester pertama akan ditutup dengan pelantikan berupa mabit (singkatan dari malam bina iman dan takwa, bukan singkatan dari makan-makan, bincang-bincang dan tidur). Kemudian peserta yang dinyatakan lulus pada semester tersebut akan mendapatkan tiket berupa sertifikat untuk melanjutkan jenjang berikutnya di semester kedua. Materi semester kedua tidak kalah menariknya dengan semester pertama:
  1. Sekularisme
  2. Nativisasi
  3. Fitnah kubra
  4. Sejarah dan doktrin syiah
  5. Pluralisme agama
  6. Konsep gender
  7. Mengenal filsafat
  8. Manusia dan kebahagiaan
  9. Golden age of Islam
  10. Serba serbi dunia dakwah
Semester kedua ditutup dengan kegiatan rihlah bagi peserta yang dinyatakan lolos menjalani semester kedua. 

Dalam setiap petemuannya terdapat dua tugas yang harus dikerjakan oleh setiap peserta. Tugas pertama ialah membuat tulisan reportase mengenai kegiatan yang diikuti sebelumnya, dan tugas membuat artikel ilmiah. Reportase dikumpulkan H+1 setelah kuliah sementara artikel ilmiah dikumpulkan dalam rentang waktu H+7 setelah perkuliahan sebelum kuliah selanjutnya dilaksanakan.

Berat?
Saya pun jadi teringat beberapa kalimat menarik dalam pembukaan SPI
"Jika kita merasa materi-materi ini amat berat maka semoga itu bukan pertanda ringannya otak kita."

Bagaimana? Tertarik untuk ikut serta belajar?
Follow akun medsos SPI yang ada di berbagai media

Instagram: @spi.indonesia

------------------------------
Sekolah Pemikiran Islam
Pena 1. SPI Moh Natsir Bandung
Pena 2. Sekolah Pemikiran Islam, Sesatkah?

No comments:

Post a Comment