"Datang ke tempat Saya jam 16.00 tepat ya. Jangan terlambat." Jawab pria yang akrab dipanggil Mas Gun saat membalas pesan dari Asa. Beliau adalah seorang wirausahawan yang sukses dalam dunia pertanian. Beliau yakin petani Indonesia dapat bersaing dengan petani global jika mereka mau memplejari ilmunya dan mau percaya dengan ilmu yang mereka pelajari.

Agenda perjalanan begitu padat, untuk bisa berpindah dari satu tempat ke tempat lain waktu tempuhnya pun tidak bisa dibilang sebentar. Waktu tempuh menuju tempat mas Gun sekitar 30 menit sementara kami harus berhadapan dengan macet di tengah perjalanan. "Celaka!" Ujar Asa dalam hati.

Akhirnya kami pun sampai di tempat mas Gun dengan selisih 15 menit dari janji yang kami buat. Merasa cukup bersalah tapi kami bersyukur mas Gun masih menerima rombongan aktivis masjid Salman dengan ramah. Sambil bercanda, di awal sesi beliau berkata,

"Biasanya saya selalu bergerak dari satu tempat ke tempat lain dengan tepat waktu. Itu sebabnya walau pejabat perusahaan sekalipun ingin bertemu dengan saya, jika mereka terlambat saya tidak akan segan untuk meninggalkan mereka. Kalian harus bersyukur masih bisa bertemu saya. Kalau amalannya tidak cukup mungkin tidak akan bisa bertemu." Ucapnya sambil tersenyum.

Di Sabila Farm, kami diajak belajar untuk memaknai proses mempelajari ilmu-ilmu Allah. Wah bagaimana tuh?

Mas Gun merupakan salah seorang siswa paling cerdas di SMA nya. Mas Gun muda bercita-cita menjadi seorang arsitek di kemudian hari. Saat pemilihan jurusan kuliah, dipilihlah arsitektur UGM sebagai pilihan kedua dan pertanian IPB (yang saat itu sedang hits) sebagai pilihan pertamanya. "Paling-paling tidak akan diterima di IPB," ujar beliau dalam benak. Namun sayangnya kecerdasan beliau justru membuatnya diterima di IPB.

Sempat merasa salah jurusan, beliau pun berusaha memaknai kuliahnya di IPB. Hingga setelah wisuda, beliau memilih untuk bertani di berbagai macam bidang pertanian. Hasilnya? Setiap bidang pertanian yang beliau geluti sukses! Beliau pun menjadi jutawan dengan mudah. Suatu saat muncul rasa ketidaknyamanan dengan kehidupan yang dirasa amat materialis. Beliau pun menyempatkan diri untuk melakukan Umrah.

Di Masjidil Haram beliau berdoa, "Ya Allah tunjukkanlah kepada Saya komoditas pertanian yang bisa membuat saya bisa membantu banyak orang."

Sepulang dari tanah suci, beliau berkunjung ke sanak saudara dan terheran-heran sebab kemanapun beliau pergi, beliau selalu menemukan buah naga di sana. "Jangan-jangan inilah pertanda dari Allah." Beliau pun meyakinkan diri sendiri untuk membeli sebidang tanah di Jogjakarta untuk ditanami buah naga.

Amat berbeda dari bisnis beliau sebelumnya yang selalu berhasil, kali ini beliau mendapatkan ujian. Berbulan-bulan beliau merawat dan menanam buah naga, tidak kunjung terlihat di mana buahnya. Tumbuh, namun tidak berbuah! Kenapa bisa seperti ini?

Beliau pun akhirnya diajak berpikir dan kembali belajar dari berbagai macam tempat. Hingga akhirnya di kemudian hari beliau ditunjukkan oleh orang lain bagaimana cara membuahkan pohon naga. Ternyata pohon naga memerlukan intensitas penyinaran matahari yang cukup tinggi setiap harinya. Untuk mengakali hal tersebut, beliau pun memasang lampu-lampu di berbagai macam titik di perkebunannya. Hasilnya? Pohon pun berbuah dengan sangat baik :)

Sejak saat itu beliau dengan giat mempelajari kembali setiap hal mengenai tanaman yang beliau budidayakan, belajar kembali berbagai sifat tanah hingga memahami setiap detail permasalahan. "Tidak ada tanah yang tidak bisa ditanami tumbuhan," katanya. Bahkan beberapa tanah yang ditunjukkan oleh sahabat beliau dan diberitahu bahwa tanah tersebut tidak produktif bisa beliau sulap menjadi tanah subur dengan produktifitas yang tinggi -dengan izin Allah tentunya-.

Dari sana beliau merasa tumbuhan mengajarinya berbagai macam filosofi hidup. Kejadian tersebut juga menundukkan perasaan beliau yang seolah mampu melaksanakan semuanya untuk senantiasa belajar ilmu-ilmu Allah. Merasa tidak berilmu di hadapan Nya dan mengagungkan ilmu pengetahuan yang ada pada Nya. Berkaca dari pengalaman spiritual yang beliau alami, beliau pun menamakan perkebunannya sebagai Sabila Farm yang merupakan singkatan dari Sarana Belajar Ilmu Allah.

"Tumbuhan adalah makhluk yang jujur." Ujar beliau memberi nasihat kepada seluruh peserta. Bagaimana bisa tumbuhan menjadi makhluk yang jujur?

----------------------------
Thoughts of Mr. Gunung Sutopo
Pena 1. Gunung Sutopo - Mempelajari Ilmu Allah
Pena 2. Gunung Sutopo - Tumbuhan, Makhluk yang Jujur

No comments:

Post a Comment