Di tengah berbagai macam urusan dan pekerjaan pribadi yang belum juga tuntas, seringkali terasa ada kegalauan deras yang mengajak diri melihat jauh ke depan. Mencita-citakan selesainya semua kebutuhan dasar pribadi sehingga dapat memiliki waktu dan tenaga yang lebih untuk semakin banyak berbagi. Ah, tapi rasanya cita itu terbentur sejuta alasan yang dibuat-buat oleh diri sendiri. Meski sungguh-sungguh dan berazzam mewujudkannya, bisa jadi Allah justru merasa kita belum layak untuk memperoleh cita karena kualitas pribadi kita masih amat rapuh untuk mengemban cita keumatan itu. Teringat sebuah nasihat dari gurunda tentang bukti kesungguhan mimpi,
"Engkau belum disebut bersungguh-sungguh dalam bercita, jika di malam hari tahajud pun kau lupa."
Rasanya sebuah cermin besar perlu diletakkan di depan diri kita agar bisa lebih lekat melihat ke dalam diri sendiri. Sudah pantaskah?

Meski cita yang didamba masih begitu jauh jaraknya, rasanya amat bahagia kala mendengar orang lain berkata bahwa hidupnya terbantu dengan kehadiran kita. Ya, amat gembira. Sebab memang seperti itulah parameter yang Rasul berikan untuk mengukur sebaik-baik manusia: Kebermanfaatan bagi sekitarnya. Hadirnya kita dapat menghidupkan, tidak menjadi beban atau justru mematikan.

Mungkin engkau ingin menjadi seorang pemimpin bangsa, mengajak umat menerapkan syariat rahmat, membawa kemakmuran dan kemapanan pada ruh dan jasad. Menghalau musuh dan para pencemburu. Ah betapa mulia, semoga Allah mudahkan jalanmu tuk meraih citamu. Genapkan kesungguhanmu dengan tahajud yang akan menyalakan malammu. Kala manusia tertidur, engkaulah pemimpin amanah yang terbangun mendoakan masyarakatmu, menceritakan kesulitanmu kepada Nya, dalam tawadhu senantiasa meminta pertolongan Nya.

Mungkin engkau ingin menjadi seorang pendidik, mengajak umat mengenal rahmat, membawa hangatnya cahaya rahmat pada ruh dan akal. Menghalau kesesatan dan kebodohan. Ah betapa mulia, semoga Allah mudahkan jalanmu tuk meraih citamu. Genapkan kesungguhanmu dengan tahajud yang akan menyalakan malammu. Kala manusia tertidur, engkaulah pendidik tulus yang terbangun mendoakan murid-muridmu, menceritakan kesulitanmu kepada Nya, dalam tawadhu senantiasa meminta pertolongan Nya.

Apa cita terbesarmu untuk umat?

Allahumma, mudahkan hati kami untuk senantiasa istiqamah mengharap ridha Mu
Mudahkan mata kami agar terbangun di tengah malam untuk memuji Mu
Condongkan harap dan takut kami hanya kepada Mu
Hingga bergetar diri kami saat menyebut nama Mu
Basah pipi kami dalam muhasabah seorang pendosa yang mengharap ampunan Mu
Tersadarkan betapa kecil dan rapuhnya kami sebagai makhluk Mu
Ya Rabbanaa, bimbing kami selalu di jalan Mu

No comments:

Post a Comment