"Wah saya tidak memiliki bakat A, berarti saya gak bisa jadi pemimpin ya." Ujar seseorang dalam sebuah grup Talents Mapping aktivis Masjid Salman.

Sejak SMP, Asa memiliki ketertarikan yang tinggi dalam mempelajari seni digital dan makhluk hidup, terutama manusia dan hewan. Itu sebabnya dahulu ia sempat bercita-cita menjadi arsitek dan dokter. Tak berhenti sampai di situ, Ia pun berusaha mendaftarkan dirinya pada jurusan arsitektur, kedokteran dan psikologi di beberapa perguruan tinggi negeri. Mempelajari manusia memang menyenangkan sebab mereka Allah ciptakan dengan amat unik. Penuh warna, geraknya tidak terduga, karakternya tidak sama. Meski begitu mereka mengenal nilai-nilai luhur yang membuat mereka dapat hidup bersama.

Bicara bakat, Saya bukan orang yang menyetujui ucapan aktivis tadi. Sebab bagi saya bakat bukanlah pembatas, peran bakat akan lebih tepat ketika diumpamakan sebagai katalis dan inhibitor suatu reaksi: Ia mempercepat atau menghambat sebuah proses pembentukan.

Rasanya semenjak tahun 2017, jagat aktivis masjid Salman mulai diramaikan dengan salah satu program baru yang menarik perhatian, talents mapping. Di sana aktivis diminta untuk menjawab ratusan pilihan guna mengetahui bagaimana keadaan bakat mereka pada saat itu. Setelah mengerjakan soal-soal tadi selama 30 menit hingga 90 menit, hasilnya dapat diperoleh dalam bentuk pdf. Lengkap berisi rincian bakat, aktivitas yang dikuasai, hingga tipe profesi yang tepat baginya berdasarkan bakat yang ia miliki.

Beberapa orang merasa tersemangati sebab rasanya jalan hidup mereka sudah sebagaimana seharusnya, on track yeah! Sementara beberapa orang yang lain mulai berpikir tentang kehidupannya, menyesali pilihannya di masa lalu hingga ada merasa masa depannya semakin kabur. Ternyata ia tidak sebaik yang ia anggap sebelumnya. Ia tidak memiliki bakat ini dan itu. Merasa tidak keren, lalu merasa tidak mampu memperoleh sesuatu sebab ia tidak memiliki kapabilitas untuk dapat meraihnya. Duh.

Bagi Saya, bakat bukanlah bawaan sejak lahir yang tidak dapat berubah hingga mati. Saya merasakan hal itu sebab Saya pun ikut mengamati apa yang terjadi pada diri Saya sendiri. Saya dapat berubah, begitu pula dengan teman-teman Saya yang lainnya.

Tes bakat digunakan untuk mendeskripsikan bagaimana keadaan seseorang pada waktu tersebut. Ia tidak memprediksi bagaimana bakatnya di masa depan atau apakah ia akan sukses atau tidak. Setiap jenis bakat adalah keunggulan, tidak ada yang benar benar buruk sebab semua memiliki peran yang baik kala ditempatkan pada tempat yang tepat. Itu sebabnya tak perlu juga kita berambisi untuk bisa menguasai seluruh jenis bakat sebab pada kenyataannya mungkin engkau sendiri justru akan merasa bahwa menguasai semuanya dekat dengan kemustahilan. Orang dengan beragam bakat pun tidak akan berkembang jika ia sendiri tidak bersikap dewasa dan memiliki daya juang untuk meraih kesuksesan dalam hidup.

Engkau bisa jadi apa saja tak peduli seperti apa bakatmu. Yang berbeda adalah sebagian orang dapat meraihnya dengan lebih mudah karena didukung bakat yang sesuai, sebagian yang lain akan meraihnya dengan lebih susah payah karena tidak memiliki bakat yang sesuai atau justru memiliki bakat yang kontraproduktif dengan tujuannya. Oleh karenanya memahami bakat perlu dibarengi dengan tahap berikutnya, yakni memaksimalkannya untuk kebermanfaatan hidup baik diri sendiri maupun bagi orang lain. Saat sudah mengenal dengan baik diri sendiri, kita dapat dengan lebih mudah memahami peran peran yang tepat untuk kita isi di kemudian hari. Tapi jika memahami bakat hanya membuatmu sekadar tahu tanpa mau bertindak maka tidak ada gunanya kamu memiliki kemampuan ini dan itu.

Diantara hal yang tidak dapat diukur oleh tes bakat adalah daya juang dan kedewasaan. Oleh sebab itu hendaknya kita mampu mengasah kedewasaan kita dalam berpikir dan bertindak dibarengi dengan daya juang yang tinggi untuk mencapai apa yang menjadi tujuan hidup kita: hidup bermakna.

----------------------
Tought on Talents
Pena 1. Bakat Bukan Pembatas, Ia Katalis dan Inhibitor
Pena 2. Bakat Dipengaruhi Nature atau Nurture?
Pena 3. Grit, Hal yang Lebih Kuat daripada Bakat
Pena 4. Menata Hidup Melalui Analisa Bakat

No comments:

Post a Comment