Bagi Asa, rasa-rasanya tidak pernah hilang rasa kagum kala membaca atau mendengar kisah hidup dari pribadi-pribadi bercahaya yang kisahnya terabadikan dalam lembar-lembar sejarah. Selalu ada hal baru yang membuat kita termenung panjang. "Orang seperti ini dulu pernah ada ya?" Gumamku heran.

Terkadang sambil menebak-nebak bagaimana respon diri sendiri kala dihadapkan pada situasi yang sama. Jika saat itu mereka adalah saya, tentu hasilnya tidak menjadi kaya akan pelajaran seperti sekarang. Apa kiranya yang membuat mereka begitu jelita dan masyhur namanya di antara penghuni langit?

Lalu kutemukan jawabannya pada perikata Ibnul Qayyim Al Jauziyah,
"Sesiapa yang menjadikan Allah sebagai keterpesonaannya; jadilah ia mempesona bagi semua mata”


Pesona shalihin begitu memikat. Keterpesonaan ini berbuah menjadi kebaikan yang mengajak kita untuk senantiasa berusaha meneladani meski berat, berusaha mengejar meski terasa jauh, menipu jarak meski terhalang waktu, merindu walau tiada pernah berjumpa, mendoakan meski tidak diminta. Indah sekali bukan? Merugilah kita jika tidak lekat dengan kisah hidup mereka.

Dari seorang Abu Bakr kita dapat belajar untuk memiliki hati yang lembut dan senantiasa diakrabi dengan kebaikan meski hati yang mudah tersentuh membuatnya menjadi lelaki yang mudah menangis, rajulun bakkaaun. Menjadi yang paling peka pada kebaikan. Merugilah kita jika tidak lekat dengan kisah hidup Ash Shiddiq.

Dari Umar ibn Khattab dan Umar ibn Abdul Aziz kita belajar untuk memaknai tanggung jawab. Tanggung jawab yang membuat kedua sosok mulia itu senantiasa menangis dan khawatir walau Umar dikenal sebagai pribadi yang tangguh lagi keras. Amat empatik terhadap kehidupan rakyatnya sehingga kita belajar bahwa tiada salahnya menangis meski engkau adalah seorang pemimpin yang berjalan di depan. Merugilah kita jika tidak lekat dengan kisah hidup Al Faruq dan mujaddid diin.

Dari Utsman ibn Affan kita belajar untuk senantiasa memelihara sifat malu. Ya, malu dikala berbuat dosa, malu kala berbagai nikmat tidak membuat kita sadar untuk memberi lebih banyak.

Dari Shalahuddin Al Ayyubi kita belajar, bahwa perubahan besar dapat terjadi meski masa lalumu tak menunjukkan arah yang seharusnya. Bahwa setiap jengkal tanah umat Islam adalah tempat yang perlu diperjuangkan agar dakwah Islam tegak di muka bumi, kedzaliman dapat diangkat dan digantikan dengan rahmat.

Dari Muhammad Al Fatih kita belajar untuk senantiasa berusaha dan melayakkan diri dengan cita yang dibawa dengan penuh kesadaran agar kelak dapat menjadi sebaik baik pemimpin yang memimpin pasukan terbaik.

Dari mereka semua kita belajar, bahwa iman dan taqwa-lah yang memuliakan setiap insan di dunia siapapun ia. Sebab ukuran kemuliaan Allah berikan pada hal yang tidak nampak oleh indera, ialah iman dan takwa.

Terpujilah Rabb yang memunculkan teladan di setiap masa sebagai sarana bagi kita untuk berkaca. Jadi, siapa sahabat yang paling engkau rindukan pertemuan dengannya? :)

--------------------------
Thought On Histories
Pena 1. Kisah, Sebuah Metode Belajar dari Rabb Semesta
Pena 2. Kisah, Sebuah Metode Dakwah dari Rabb Semesta
Pena 3. Belajar Sejarah Untuk Menggali Makna

No comments:

Post a Comment