Pemuda Tertidur di Dalam Masjid

"Lihatlah indahnya Islam dari ajarannya, bukan dari para pemeluknya"

Pernyataan yang biasa disampaikan oleh Dr. Zakir Naik di atas adalah pernyataan yang benar tergantung sebagai apa kita mengamalkannya. Sebab memang para pemeluk agama Islam saat ini masih jauh dari menerapkan nilai-nilai Islam pada keseharian mereka. Sehingga masih banyak sikap buruk yang ditemukan pada para pemeluknya. Ada yang menjadi muslim tetapi masih tetap berbohong, mengingkari janji, berbuat curang, berkata kasar dan lain sebagainya.

Pesan dari Dr. Zakir Naik menjadi benar ketika pernyataan itu ditangkap oleh seorang penuntut ilmu. Dalam mempelajari Islam kita harus belajar terutama dari ajarannya bukan dari muslim umum yang melaksanakannya. Kalaupun butuh contoh orang yang mengamalkannya, maka kita perlu mengambil contoh dari orang-orang yang terbaik dalam mengamalkan ajaran Islam. Siapa mereka? Tentu generasi awal umat yang berada di sekeliling Nabi Muhammad. Cara memperoleh ilmu dari ajarannya adalah dengan mengambil ilmu itu dari para penuntut ilmu yang serius dalam mendalaminya. Contohnya adalah para ulama seperti Imam Syafi'i, Imam Bukhari, Imama Ibnu Taimiyah maupun ulama kontemporer sekarang yang memiliki kepakaran dalam bidangnya.

Sayangnya, pernyataan itu seolah menjadi pembenaran untuk berbuat salah jika disampaikannya dalam posisi sebagai pemeluk agama Islam itu sendiri, bukan dalam konteks sebagai penuntut ilmu. Contohnya kita mendapati seorang muslim yang dikenal sebagai pembohong atau preman nakal. Alih-alih berbenah untuk menjadi orang yang jujur dan baik, ia justru tetap berbuat seperti itu dengan sambil berkata,

"Tidak apa masih punya keburukan tapi jangan katakan Islam buruk karena perilaku Saya. Lihat Islam dari ajarannya, bukan dari Saya."

Mengapa hal seperti ini menjadi salah? Sebab bagaimanapun juga orang lain melihat baiknya sebuah ajaran dari orang-orang yang mengaku tunduk pada ajaran tersebut. Contohnya banyak orang Indonesia menganggap geng motor buruk sebab sikap kebanyakan orang dari mereka. Padahal ada juga orang-orang anggota geng motor yang justru rajin mengikuti kajian dan tengah berusaha dengan sunggung-sungguh untuk bisa menjadi muslim yang taat.

Oleh karena itu syaikh Az-Zarnuji dalam kitabnya, Ta'lim Muta'allim ikut mengangkat topik menjaga sikap sebagai seorang penuntut ilmu untuk menjaga kemuliaan ilmu dari sikap orang-orang yang sedang mempelajarinya. Beliau mengangkat contoh sikap Imam Ibu Hanifah dalam menasihati para penuntut ilmu,

"Agungkanlah serban kalian, dan longgarkanlah lengan baju kalian."

Pertanyaannya, mengapa hal itu sampai diperintahkan oleh Imam Abu Hanifah? Sebab jangan sampai karena sikap atau penampilan kita yang buruk lalu ilmu yang dipelajari ikut kehilangan kemuliaannya. Kita tidak ingin orang-orang justru berkata,

"Ah belajar ilmu fiqih percuma saja, ada yang udah belajar tapi penampilan lusuh."
"Jangan belajar syariah. Tuh orang lain belajar syari'ah sama aja tetap korupsi."
"Belajar akhlaq buat apa? Saya punya teman belajar ilmu akhlaq tapi tetap saja ia berbohong."

Jika dalam menuntut ilmu saja kita diminta untuk menjaga sikap agar kedudukan ilmunya tetap mulia, apalagi terhadap Islam itu sendiri. Jangan jadikan status kita sebagai practicing muslim pembenaran untuk bernyaman diri dengan perilaku buruk. Berislam berarti siap untuk bersikap progresif dan terus belajar menjadi lebih baik.

Jagalah Islam dengan cara menjaga sikap kita dalam kehidupan sehari-hari. Meski sulit, kita tetap perlu mengusahakannya. Engkau disebut kalah dalam belajar saat tidak berusaha dan menyamankan diri berada pada keadaan buruk saat ini. Yuk, hijrah jadi lebih baik!

Thoughts?

-----------------------------------------------------
Thought on Muslim's Misunderstanding
Pena 1. Berislam, Kemudian Menjaga Kemuliaannya

No comments:

Post a Comment