Ada begitu banyak alasan untuk mencintai Islam, salah satu alasan yang membuat Saya semakin mantap dalam berislam adalah Islam merupakan agama yang menjadikan ilmu pengetahuan sebagai pondasi diin. Begitu seriusnya diin ini mendalami ilmu pengetahuan hingga Islam sendiri seolah menjadi sebuah cabang ilmu tersendiri yang bertautan satu sama lain membentuk kesatuan bernama syai'ah yang menyeluruh.

Ya, agama Islam seolah menjadi cabang ilmu tersendiri. Kenapa? Karena luasnya kajian keilmuan yang ada dalam Islam.

Untuk bisa memahami Islam, kita mengenal ilmu alat seperti nahwu, shorof, balaghah, ma'ani, badi', fashahatul kalam dan lain-lain. Ilmu membaca Al-Qur'an berdiri dengan nama ilmu tajwid hingga tahsin. Cara membaca Al-Qur'an didalami hingga menghasilkan beberapa bentuk langgam. Sementara kajian keislaman sendiri membentang dari tarikh, tafsir Quran, tafsir hadist, fiqih, ushul fiqih, balaghah, mustalahul hadist dan lain sebagainya. Belum lagi jika kita merinci kembali setiap poin dari cabang keilmuan itu seperti fiqih yang mencakup fiqih kepemimpinan, mu'amalah hingga hudud wal jinaayaat (pidana dan pengadilan). Sudah pernah mendengar beberapa topik dalam agama Islam tadi? Bahkan mungkin terdapat beberapa orang yang baru mengetahui adanya istilah-istilah tadi dalam Islam.

Celetuk Saya dahulu kala saat seolah baru menyadari begitu luasnya cabang keilmuan Islam kurang lebih, "Kalau begitu Islam sejak dulu menjunjung tinggi metode ilmiah jauh sebelum istilah metode ilmiah membumi pada abad 17 masehi ya? Jauh sebelum kita mengenal tinjauan pustaka dalam skripsi." Perbedaannya, saat itu metode ilmiah Islam berperan sebagai kultur keilmuan yang berkembang di tengah masyarakat sementara kodifikasi metode ilmiah mulai dilakukan di abad 17 masehi. Keterangan akan hal itu dapat dibaca dalam wikipedia.

Begitu dalamnya perhatian Islam terhadap ilmu sampai-sampai kitab yang menjelaskan tentang ilmu seperti kitab Ta'lim Muta'allim menguraikan begitu detail adab, akhlaq, pakaian, hingga rincian kultur keilmuan yang harus diangkat oleh seorang penuntut ilmu. Misalnya, cara menaruh kitab, cara memilih ilmu dan menentukan guru.

Sama halnya dengan fisika atau ilmu sosial seperti psikologi yang terus berkembang menghasilkan teori baru, begitu pula Islam terkhusus pada perkara-perkara yang mutaghayyiraat (dapat berubah) dan furu' (cabang). Kajian keilmuan menjadi hidup kala topik yang dibahas selalu memunculkan tantangan baru dan kasus yang menarik. Tak jarang memunculkan pendapat yang berbeda. Namun, memang begitulah ilmu kala dikaji dengan baik. Selain itu metode ilmiah ini dibuat untuk memisahkan sains dari hal-hal yang tidak relevan dengannya atau bersifat pseudosains.

Dari mana bisa berkata hal itu sudah menjadi kultur? Salah satunya dari profesi yang ada karena tuntutan keilmuan dan keadaan saat itu. Qadhi (hakim) dalam mahkamah syariah contohnya. Sebelum seorang qadhi menjatuhkan fatwa atas suatu perkara, proses berpikir ilmiah dilakukan dengan...

  • menghimpun premis dari keterangan yang ada
  • menguji dan mencocokannya dengan landasan teori yang berasal dari sumber hukum Islam (Al Quran, hadist maupun keterangan ulama sebelumnya)
  • kemudian membuat elaborasi berupa fatwa yang tepat bagi empunya permasalahan. 


Selain itu kita dapat mengetahuinya juga melalui cabang ilmu yang teknis penerapannya amat dekat dengan metode ilmiah: ushul fiqih dan rijaalul hadist.

Mengetahui Islam adalah diin yang ilmiah, amat menyedihkan rasanya saat kita melihat umat Islam sekarang justru begitu mudah terperosok pada lubang-lubang hoaks. Padahal ayat yang menerangkan tabayyun jelas berbunyi,

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”. [Al Hujurat : 6].

Seringkali kita temukan pula umat Islam yang mempercayai begitu mudah teori konspirasi yang tidak jelas asal usulnya, membela mati-matian flat earth dan lain sebagainya. Padahal bentuk bumi yang bundar sudah dijelaskan jauh lebih dulu oleh ilmuan yang juga seorang muslim bernama Ahmad ibn Muhammad Ibn Katsir Al-Farghani (805-870 M) yang diutus oleh khalifah Al-Ma'mun untuk menghitung jarak dari Tadmur dan Raqqa. Ia mengukurnya dengan menggunakan prinsip lingkar bumi menghasilkan jarak pengukuran keliling bumi sebesar 40.248 km, sangat dekat dengan pengukuran modern yang menghasilkan angka 40.068 km.

Perubahan kebudayaan badui dan primitif dari bangsa semit yang berada di jazirah Arab dengan datangnya Islam juga terasa. Bahkan kita mengenal orang-orang badui Arab yang dahulu terkesan udik dan kampungan pada akhirnya justru menjadi orang-orang dengan semangat menuntut ilmu dan semangat juang yang tinggi. Sampai-sampai Umar ibn Khattab berkata,

"Orang-orang Badui-lah yang melengkapi Islam dengan bahan-bahan yang kasar."

Padahal orang badui terlebih badui pedalaman sejak dulu dikenal dengan gaya hidupnya yang nomaden dan gemar merampok (sariyyaa) untuk bertahan hidup. Keterangan ini dapat kita peroleh juga dari Sejarawan Goustave le Bon (1841-1931 M) saat menerangkan bagaimana kehidupan Arab badui.

Selain itu budaya kajian umat ini menurun dengan begitu jauh. Sebelum jauh ke ranah kajian, dalam hal minat baca --yang mana merupakan tahap memperoleh informasi sebelum masuk ke tahapan berpikir dalam kajian-- saja negara-negara dengan penduduk mayoritas Islam bahkan tidak nampak pada urutan 10 besar. Berdasarkan data yang dapat diakses pada World Most Literate Nations, negara Islam baru terlihat pada urutan ke 45 yang diwakilkan oleh Qatar. Indonesia? Ada pada urutan 61 dari total 62 negara yang disurvey.

Ah, kita perlu menghidupkan kembali tradisi keilmuan ini
Tradisi yang membuat Cordoba dan Baghdad menjadi pusat ilmu pengetahuan
Kultur yang menjadikan para penuntut ilmu amat dihormati
Panduan yang mampu menghasilkan penuntut ilmu terbaik pada masanya

------------------
Adoring Islam
Pena 1. Agama yang Menjadi Ilmu
Pena 2. Meninggikan Ilmu
Pena 3. Teladan yang Tidak Pernah Habis
Pena 4. Bukan Mukjizat yang Membelalakkan Mata

No comments:

Post a Comment