Sabtu yang lalu untuk pertama kalinya setelah sekian lama selalu menolak ketika diminta menjadi pembicara terkait tema entreprenur akhirnya mengisi juga dalam forum bidik misi UPI. Kenapa menolak? Sebab Saya memang sadar diri jika Saya masih jauh dari kata layak disebut sebagai entrepreneur. Karya Saya rasanya masih jauh lebih kecil daripada orang lain yang juga bergerak di bidang yang sama. Tapi kata-kata dari bang Aad kembali datang,

"Walau merasa tidak layak, coba saja. Belajarlah!"

Seketika Saya pun mengiyakan permintaan dari panitia untuk menjadi pembicara. Kali ini Saya diminta menjelaskan kepada para peserta tentang mental entrepreneur terutama bagaimana menerapkannya dalam kehidupan mahasiswa sehari-hari.

Satu momen yang tidak akan pernah dilupakan dari belajar berbisnis saat masih mahasiswa ada pada saat melakukan aktivitas Danus (dana usaha). Aktivitas berjualan ini secara tidak langsung memberikan banyak pelajaran dasar hidup untuk Saya. Saat coba bertanya kepada peserta mengenai pelajaran apa yang dapat diperoleh dari aktivitas dana usaha maka jawaban mereka,

"Belajar manajemen waktu"
"Mengelola keuangan"
"Kemandirian"

Jawaban-jawaban tersebut bukanlah jawaban yang salah, akan tetapi ternyata bagi Saya aktivitas danus memberikan pelajaran yang berbeda:

Belajar Tersenyum

Mengapa belajar tersenyum? Sebab saat berdanus tidak mungkin kita menjajakan makanan kepada pelanggan sambil bermuka masam bukan? Bisa-bisa tidak ada yang beli hanya karena raut muka menyeramkan dan fakir senyuman. Melalui berdanus Saya belajar untuk bisa bertemu dengan semua orang dalam keadaan yang bahagia, menyambut setiap pembeli walau ada yang harus nge-bon dulu karena lupa membawa uang atau tidak memiliki uang kecil juga dengan bahagia, termasuk mengontrol keadaan diri sendiri dalam kondisi apapun agar selalu bahagia.

Belajar Berterimakasih

Saat berdanus dan menerima orang yang membeli barang kita, kita tidak boleh lupa dengan kata magis ini: terima kasih. Kamu pun mungkin merasakannya dalam kehidupan sehari-hari. Bertemu penjual yang bisa mengucapkan terima kasih rasanya lebih menyenangkan daripada bertemu penjual yang bahkan dalam melayani apa yang sedang kamu butuhkan saja nampak tidak ikhlas. Contohnya Saya pernah bertemu kasir sebuah hypermarket ternama yang melayani pembelian dengan asal dan lupa berterima kasih. Mungkin lagi bete.

Belajar Bersyukur

Belajar bersyukur ini istimewa karena saat berdanus Saya merasa perlu untuk mensyukuri setiap capaian kecil yang diperoleh setiap hari. Hari ini untung hanya 20rb kemudian esok hari menjadi 21rb saja rasanya sudah amat menyenangkan. Pada akhirnya juga belajar bersyukur dan memaknai bagaimana orang tua atau siapapun yang selama ini menghidupi kehidupan kita berjuang mencari uang. Mencari uang ternyata tidak semudah itu ya, Ferguso.

Pun demikian apapun yang diperoleh dari sebuah aktivitas pastikan kita mendapatkan dan bisa menggali banyak pelajaran darinya.

Foto: Skuad FIM 20 Bandung sedang Mencari Nafkah

No comments:

Post a Comment