“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, pada waktu ia memberi pelajaran kepadanya, ‘Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (QS. Luqman: 13).

Kalimat di atas adalah kalimat yang pertama kali diajarkan oleh Luqman kepada anaknya. Ia mengajarkan perkara iman dan keyakinan. Mengapa yang pertama kali diajarkan adalah aqidah dan hal itu dicontohkan dalam Al Quran sebagai peran seorang Luqman bukan ibunya?

Hal yang paling mendasar dari ajaran Islam adalah aqidah. Ia ibarat akar bagi sebuah pohon dan ibarat pondasi bagi sebuah bangunan. Sebab ia tidak nampak pada permukaan tanah terkadang kita justru terkesan mengabaikannya. Sulit mengukur aqidah sebab ukurannya pun tidak mudah dibaca. Selama ini lebih mudah bagi kita untuk mengukur keshalihan lahiriyah seperti shalat, puasa, membaca Al Quran, hafalan Al Quran dan lain sebagainya. Namun, mengukur aqidah bagaimana ya?

“Orang-orang yang beriman itu adalah orang-orang yang apabila disebutkan nama Allah maka bergetarlah hati mereka. Apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya maka bertambahlah keimanan mereka. Dan mereka hanya bertawakal kepada Rabb mereka.” (QS. Al-Anfal: 2)

Bergetarnya hati? Sulit ya mengukurnya.

Problem Keimanan Kita

Masalah-masalah yang timbul dari lemahnya pendidikan iman secara langsung mungkin kita hadapi di sekitar kita. Diantaranya fenomena muslim berperangai ganda.

Kita jamak mendapati seorang muslim yang berkomitmen pada shalat, shaum, tilawah dan lain sebagainya namun ia tidak memiliki komitmen pada Al-haq. Ia masih mengerjakan perbuatan keji hingga nista padahal shalat seharusnya mampu menghentikan seseorang dari perbuatan keji dan munkar. Kenapa bisa terjadi? Karena ibadah yang dikerjakan keluar bukan karena ekspresi keimanan, namun sebatas rutinitas. Semuanya tidak lahir dari kecintaan kepada yang haq dan kebencian kepada yang bathil. Akhirnya semua menjadi fatamorgana sebab ibadah lahir bukan dari aqidah.

Komitmen kepada Haq ialah produk dari aqidah, bukan syariah seperti ibadah dan akhlaq. Sayangnya atas alasan-alasan seperti aqidah itu kompleks dan abstrak, maka orang tua memilih untuk menunda mengajarkan aqidah kepada anak. Anak sejak kecil disibukkan untuk belajar calistung, menghafal dan lain sebagainya. Hm...

Dahulu, bahkan tanpa pendidikan agama maupun akses media terhadap materi agama yang tersebar dimana-mana seorang perempuan berani mempertahankan jilbabnya meski harus diseret dan dikurung dalam penjara. Saat ini jilbab terkesan menjadi produk budaya yang digunakan sekadar untuk menjadi penghias diri. Itu sebabnya jamak kita dapati misal seorang perempuan yang berjilbab saat di luar namun melepaskan jilbabnya saat berada di kosan atau bersama pacar mereka. Cinta memang hanya bisa dikalahkan dengan cinta yang lebih besar bukan? Sayangnya rasa cinta pada Islam tidak lebih berat dari rasa cintanya pada sang pacar.

Apa yang salah?

Kekeliruan Kita dalam Memandang Pendidikan Iman

Di tengah masyarakat kita saat ini ada anggapan yang keliru bahwa...

Pertama, aqidah merupakan perkara abstrak dan anak kecil tidak dapat diajarkan untuk berpikir abstrak. Kita cenderung menilai bahwa anak masih berpikir kontrit sehingga merasa bahwa pembelajaran iman lebih baik diajarkan di kemudian hari saat ia sudah lebih dewasa. Berbeda dengan Luqman yang mengajarkan kepada anaknya perkara iman sejak dini. Padahal anak sudah bisa diajarkan pendekatan iman sebab sejatinya anak adalah pribadi yang amat imajinatif.

Kedua, aqidah itu kompleks dan sulit dipahami anak. Padahal aqidah Islam amat sederhana. Ia berbicara mengenai tauhid yang sederhana. Ia adalah Allah yang tunggal, satu, Esa. Kunci dari aqidah yang utama adalah belajar mengesakan Allah. Pun jika kita masih merasa aqidah meruapakan sesuatu yang amat kompleks maka sudah menjadi tugas orang dewasa untuk menerjemahkan yang kompleks menjadi sederhana. Sebab pembeda antara seorang pakar dengan yang bukan adalah pakar mampu menerjemahkan konsep rumit ke dalam pendekatan yang sederhana katanya.

Kenapa Harus Luqman yang Berbicara?

Peran jelas dari Ayah nampak dari kata "tidak" yang ada pada ayat tersebut sebab beriman juga diawali dengan kesiapan untuk berkata "tidak" pada selain-Nya. Kata tidak memiliki karakter ego, ia adalah individualitas yang diajarkan seorang Ayah. Seseorang yang tidak mampu berkata "tidak" maka tidak mampu juga menjadi seorang muslim sebab syahadat kita diawali dengan kata "tidak".

Sayangnya, di beberapa tempat kata "tidak" maupun yang senada seperti "jangan" seolah menjadi hal yang harus diajuhi dalam pendidikan karena bersifat negatif. Dampaknya yang terjadi ialah defisit nurani. Kita bisa mendapati sebuah fenomena dimana seorang murid suatu ketika mendorong gurunya dari lantai atas sekolah sambil tertawa tanpa rasa bersalah. Ternyata saat ditelusuri, ia tidak pernah diajarkan dengan kata "jangan" oleh orang tuanya.

Sifat negatif atau positifnya sebuah kalimat pendidikan tergantung dari konteks yang digunakan di dalamnya. Misal berkata, "Anjing kau nak!" tanpa kata "jangan" atau "tidak" sekalipun akan tetap bermakna negatif. Jadi jangan terbatasi oleh ketidakbolehan menggunakan diksi "jangan" maupun "tidak".

Mengenalkan Iman

Iman adalah pendidikan yang tidak bisa diajarkan dengan cara men-cerewet-i anak dengan berbagai beban agama seorang mukallaf. Semakin anak didikte, ia justru bisa menjadi semakin muak dengan perintah-perintah yang ada dalam agama. Pendidikan agama adalah pendidikan yang diajarkan meskipun sedikit namun mempesona. 

Pesona itu tidak diajarkan melalui cerewetnya lisan dalam memerintah anak namun melalui tangan yang banyak mencontohkan

Terbayang maksudnya?

Riset pribadi dari bang Aad terhadap anak-anak dari orang tua yang dahulu bergiat dalam aktivitas keislaman menunjukkan hal yang menarik. Rata-rata mereka tidak menjadi aktivis yang sama sebagaimana orang tua mereka. Kenapa? Sebab memang pendidikan ghirah keislaman tidak dapat diajarkan melalui doktrin yang membabi buta. 

Dalam pendidikan keislaman, aqidah lebih utama daripada akhlaq. Sayangnya pendidikan agama kita banyak mengajarkan akhlaq namun minim dalam mengajarkan aqidah. Padahal akhlaq adalah sesuatu yang tumbuh dan berbuah dari aqidah yang lurus. Kesempurnaan Islam ada pada akhlaq dan akhlaq berbicara soal rambu-rambu. Hal ini pula yang menyebabkan banyak anak masjid terasa kurang kreatif sebab terdapat kesalahan prosedur dan langkah dalam mengajarkan pendidikan agama. Moral dalam beragama digenjot sebegitu keras sehingga ia menjadi seorang muslim yang terlalu  konservatif. Terlalu banyak diajarkan cara mengerem namun tidak banyak diajarkan cara menancapkan gas.

Perintah dalam Al Quran maupun hadist pun amat jelas berbicara soal progresivitas. Perintahnya adalah amar ma'ruf terlebih dahulu baru nahi munkar, bukan nahi munkar dahulu baru amar ma'ruf. Definisi takwa adalah melaksanakan kebaikan dan meninggalkan yang dilarang. Perintahnya adalah menegakkan yang haq terlebih dahulu barulah menghancurkan yang bathil. Kita senantiasa diajarkan untuk mengejar pahala barulah menekan dosa, bukan sebaliknya. Yang ditimbang di akhirat pun adalah seberapa banyak pahalanya.

Kita saat ini lebih takut terhadap dosa Adam daripada dosa iblis

Dosa Adam adalah berbuat kesalahan lalu ia bertaubat dan itu Allah cintai. Sementara dosa iblis adalah keangkuhan yang menyebabkannya dilaknat hingga hari kiamat.

Karakteristik Pendidikan Iman

Berdasarkan beberapa hal yang dijelaskan sebelumnya, mungkin sudah mulai terbaca bagaimana karakteristik dari pendidikan Iman. Secara singkat karakteristik dari pendidikan iman bersifat:
  1. Tidak terasa sebab Iman ditularkan.
  2. Indikator utamanya bersifat nonempirik sehingga jangan mengukur keimanan melalui hal yang empirik. Indikator keimanan paling nampak dapat terlihat dari spontanitas anak saat beraktivitas. Responnya terhadap musibah hingga ketakjubannya mengagumi ciptaan Allah.
  3. Indikator pendukung bersifat empirik dan konsisten. Hal itu dapat dilihat dari keistiqamahan dalam beribadah. Jika konsisten terlebih dilaksanakan tanpa rasa terbebani maka ruhiyahnya sudah mulai terbentuk.
  4. Inside-out. Hal yang benar ialah jika seseorang sudah beriman maka keimanan itu akan bertumbuh dan berkembang dengan sendirinya dari dorongan yang ada dalam diri sendiri.
  5. Fungisonal, non struktural. Ia bukan hal yang terstruktur seperti kurikulum, tapi ia bersifat mengalir. Ketika didapati sebuah perisitiwa maka ia bisa menarik hikmah keimanan di dalamnya. Ketika memperoleh rizki akan ia kaitkan dengan iman. Ada iman ketika bertemu dengan musibah dan contoh-contoh lainnya.

Lantas setelah mengetahui karakter pendidikan iman, bagaimana metode-metode yang bisa digunakan dalam menginternalisasi iman ini dalam diri anak? Berlanjut pada pena berikutnya.

--------------------------------
Majelis Luqmanul Hakim
Pena 1. Dicari, Lelaki Luqmanul Hakim
Pena 2. Luqmanul Hakim dan Peran Ayah dalam Pendidikan Anak
Pena 3 Ayah, Arsitek Visi Keluarga
   - Merancang Visi Keluarga
Pena 4. Pendidikan Iman
   - Metode Pendidikan Iman kepada Anak
   - Membangun Mahabbatullah
Pena 5. Sang Raja Tega
Pena 6. Konsultan Bunda
Pena 7. Pendidik Kemandirian
Pena 8. Penanggungjawab Pendidikan
Pena 9. Pendidik Sistem Berpikir
Pena 10. Pendidik Kewirausahaan
Pena 11. Smart Mencari Nafkah

No comments:

Post a Comment