Attack on Berhala Memulai Kebaikan


Dahulu kala, berhala ada karena perasaan berdosa dan kotornya orang-orang jahiliyah ketika mereka hendak beribadah kepada Allah. Disebabkan keadaannya yang merasa tidak bersih dan tidak layak untuk berjumpa Allah, maka mereka membuat perantara untuk beribadah melalui orang-orang shalih terdahulu yang telah dibuatkan patungnya. Setidaknya terdapat 360 patung yang mengelilingi Ka'bah belum lagi ditambah dengan setiap patung yang disimpan di dalam rumah masing-masing. Padahal seseorang bisa dengan leluasa beribadah kepada Allah walau ia seorang pendosa sekalipun.

Istilah berhala sendiri sebenarnya diperoleh ketika mengikuti kajian peradaban dari bang Aad di Salman ITB. Ibarat sebuah berhala yang sebenarnya tidak menjadi persyaratan seseorang untuk bisa beribadah kepada Allah, dalam berbuat baik terkadang kita menciptakan sendiri berhala-berhala itu di dalam diri kita. Pernah merasa ragu untuk berbuat baik karena...

Merasa bahwa apa yang kita lakukan tidak akan memiliki dampak yang besar
Sepertinya waktu melakukannya tidak tepat
Belum ada teman untuk bersama-sama memulai
Jumlah peserta kegiatannya paling hanya sedikit

Jika pernah, maka itulah bentuk-bentuk berhala yang dimaksud. Ada berapa jenis berhala yang membuat kita ragu untuk memulai dan menunggu berhala itu dibuat terlebih dahulu. Saya pribadi mengumpulkan beberapa jenisnya dan mungkin kamu bisa menemukan banyak bentuk lainnya.

Komentar Orang Lain

Nampak sangat sering dibahas, ya? Tapi hal ini juga yang terkadang menjadi berhala.

Sebutlah suatu ketika kamu berjumpa dengan kawan lama yang sudah bekerja di perusahaan multinasional. Saat itu Ia bisa datang dan menceritakan capaian hidupnya seperti gaji dua digit, posisi penting di perusahaan hingga gadget baru yang bisa ia beli. Sementara itu kamu hanya seseorang yang senang membuat rumah belajar dan menghidupkan TPA di sekitar tempat tinggalmu. Orang lain melihatmu seolah dirimu bukan pribadi yang sukses. Mau membanggakan apa? Kau pun jadi ciut. Mulai berpikir kembali untuk mengejar tawaran karir dari perusahaan yang sempat kamu tolak satu tahun yang lalu dan mengejar kemapanan agar juga bisa memiliki "posisi" di mata manusia.

Saya di sini tidak sedang mengatakan bahwa kemapanan tidak bisa diraih sambil mengerjakan kebaikan lain yang tengah kita geluti. Hanya saja di sini Saya hendak berkata, "Jangan tersilaukan oleh anggapan orang lain terhadap dirimu selama yang kamu kerjakan adalah kebaikan dan kemanfaatan."
The only one you need to impress is Allah, right?
Pada kenyataannya, Allah tidak pernah menilai diri kita dari berapa banyak harta yang bisa kita kumpulkan atau seberapa hebat dirimu bisa memukau banyak mata. Tapi Yang Maha Adil melihat dari ketakwaan kita dan seberapa besar manfaat yang bisa kita berikan kepada sekeliling. Pun meski kita melakukan hal yang tidak dapat memukau banyak mata, pastikan tujuan kita sejak awal sudah benar sebab,

"Diantara tanda keberhasilan di akhir adalah kembali kepada Allah di awal" Ibn Athaillah Al-Iskandari (1250-1309 M)

Saya Sendirian

Kadangkala kita juga menjumpai masa dimana hendak bergerak rasanya menjadi sulit karena saat itu kita masih sendirian. Rasanya, "Hendak membuat apa dengan bergerak sendiri?" Akhirnya kita menunggu momen hingga ada teman-teman satu visi yang bisa diajak bergerak bersama. Ya itupun kalau kita bisa bertemu mereka, kalau sampai menjelang kubur belum juga dapat lantas hendak menyesalinya?

Jika membaca pena pertama, Ust Jazir menyampaikan kepada kita bahwa
"Yang perlu kamu lakukan adalah memulai kebaikan. Insya Allah niat baik akan dipertemukan dengan kebaikan-kebaikan yang lainnya."
Ternasuk orang-orang baik yang memiliki visi sama dengan kita. Mulai dulu aja, ceritakan cita-citamu saat bertemu sahabatmu, apa yang kamu pikirkan tentang dunia, lakukan hal apapun yang kamu bisa lakukan dengan kemampuan seorang diri. Allah akan menggerakkan kebaika. Kalaupun apa yang kamu perjuangkan pada akhirnya hanya menyisakan dirimu saja, Umar ibn Khattab pernah berkata kepada kita dengan kalimat yang sangat epik!
“Jika ada seribu orang yang membela kebenaran, aku berada diantaranya. Jika ada seratus orang yang membela kebenaran, aku berada diantaranya. Jika ada sepuluh orang pembela kebenaran, aku tetap ada di barisan itu. Dan jika hanya ada satu orang yang tetap membela kebenaran, maka akulah orangnya.” Umar ibn Khattab (584-664 M)

Masih ada lagi? Ada banyak, berlanjut ke pena berikutnya :)

---------------------------
Memulai Kebaikan

Pena 1. Mulai Aja Dulu
Pena 2. Berhala Memulai Kebaikan

Pena 3. Berhala Memulai Kebaikan Episode II

No comments:

Post a Comment