Local Hero Mr Sariban

"Assalamualaikum, halo Akhyar. Boleh minta bantuan?"
(Diam, centang biru read)
"Kok read doang sih?"
"Ya kamu baru hubunginya pas ada butuhnya doang yaudah saya ga bales."

Status yang dibagikan di LINE tersebut kemudian menjadi viral dengan pesan utama "jangan menghubungi teman ketika ada butuhnya saja." Namun, sebagian orang justru menjadikannya sebagai pembenaran untuk tidak membantu mereka yang tidak bersilaturahim sebelumnya. Hm... mungkin hal itu dilakukan untuk memberikan pelajaran kepada mereka.

Sekilas hal ini terasa benar termasuk bagi saya. Siapa yang tidak senang jika selalu dihubungi sahabat baik saat sulit maupun di saat senang? Baik sekadar menyapa maupun saat ada butuhnya saja. Akan tetapi Saya justru terdorong untuk mengkritisi hal yang Saya sukai tersebut. Sebab rasanya dari apa yang Saya pahami, para sahabat nabi tidak menunjukkannya dengan cara demikian. Dalam hal ini sahabat nabi maupun Islam mengajarkan kepada kita dua hal penting dalam urusan ta'awun tolong menolong: Tangan yang tulus membantu dan pribadi yang pandai membalas budi.

***

Kita mengenal sebuah kisah dari Thalhah ibn 'Abdillah ibn 'Auf yang mengajarkan kepada kita hal istimewa dalam menolong orang lain. Terabadikan dengan baik kisah Thalhah dalam karya Imam Abu Hatim di kitab Raudhatul 'Uqala. Suatu ketika istrinya, 'Aisyah binti Abdillah ibn Muthi' Al-Aswad mengajaknya berbicara.

"Demi Allah, hai suamiku. Aku tidak pernah menemukan orang yang lebih buruk sifatnya dibandingkan dengan sahabat-sahabatmu." Kata istrinya mengawali pembicaraan.

Mendengar hal itu, Thalhah terkejut, "Demi Allah, jangan sampai mereka mendengar kata-katamu. Sifat buruk apakah yang kamu maksud itu, Sayang?"

"Demi Allah, sifat buruk itu tampak sangat jelas."

"Apakah gerangan?" Kejar Thalhah penasaran.

"Jika engkau dalam keadaan senang, mereka datang dan menemanimu. Namun, jika engkau susah maka mereka menjauhimu."

"Sebenarnya tidak seperti itu," ujar Thalhah sambil tersenyum, "Aku justru melihatnya sebagai budi yang mulia."

"Apa maksudmu menganggapnya sebagai budi yang mulia?" Tanya istrinya keheranan.

"Memang demikian, mereka hanya berkunjung di saat kita sedang mampu menjamu. Saat kita sedang tidak sanggup menjamu, mereka memahaminya. Lalu mereka tidak datang ke mari."

***

Menarik ya? Jika Thalhah mau, saat itu ia bisa membenarkan kata-kata istrinya sebagaimana status LINE yang Saya temukan. Tapi tidak begitu ceritanya. Memang keluhuran akhlak para sahabat begitu istimewa. Ia memilih untuk berbaik sangka dan melihatnya dengan sudut pandang yang indah. Tabaarak ar-Rahmaan.

Ah, Saya jadi teringat sebuah riset yang dilakukan tentang sejauh apa seseorang dapat memiliki sahabat dekat. Artikel singkatnya bisa kita baca bersama dalam situs Business Insider. Sementara hasil risetnya bisa kita telaah di link berikut.

Angka Dunbar namanya, diambil dari nama penemunya yang merupakan seorang antropolog bernama Robin Dunbar (1947-...). Pada tahun 2007 yang lalu, sebelum media sosial begitu masif terasa seperti sekarang, Ia melakukan sebuah riset dengan cara mereview panggilan telepon dari 27.000 orang di Eropa. Hasilnya? Dalam menjaga sebuah hubungan, seseorang akan memiliki beberapa layar persahabatan yang menggambarkan tingkatan kedekatan hubungan. Pada layar pertama, rata-rata seseorang hanya mampu memiliki 4 orang dengan tingkat hubungan yang amat dekat. Pada layar berikutnya angkanya bertambah menjadi 15, 50 hingga 100. Semakin luas layarnya, maka semakin renggang hubungan seseorang dengan mereka.

"Tapi Sa, itu kan di Eropa. Kita di Indonesia berbeda dengan budaya keramahan di sini."

Ya bisa jadi, angkanya mungkin akan berbeda tapi esensi risetnya sama:

Kemampuan kita menjalin hubungan baik dengan orang lain terbatas.

Secara langsung maupun tidak, kita pun merasakannya dalam kehidupan sehari-hari. Kita memerlukan investasi waktu, tenaga, perhatian hingga materi untuk bisa menjaga sebuah hubungan baik. Masalahnya, kesemua sumber daya tersebut adalah sumber daya yang terbatas. Tak perlu jauh-jauh ke hubungan baik dengan orang lain, kita dapat menemukan contoh yang dekat di sekitar kita. Tidak jarang dalam sebuah keluarga, seorang Ayah dapat terbiaskan antara perhatiannya terhadap keluarganya dengan perhatiannya ke tempatnya bekerja. Ya, perhatian itu terbatas.

Mungkin dalam keseharian, kita juga menemukan orang-orang yang nampak supel dan mudah bergaul dengan orang lain. Rasanya jika bersama dengannya Ia bisa membuat setiap orang terasa begitu spesial! Contoh nyatanya adalah Rasulullah. Pernah suatu ketika seorang sahabat merasa menjadi salah satu orang yang paling Rasul cintai karena begitu istimewanya perlakuan beliau kepadanya. Namun, saat bertanya kepada Rasul siapa yang paling beliau cintai, ternyata namanya tidak ada dalam urutan terdepan. Ya, akan selalu ada kasus-kasus istimewa dalam setiap teori. Tapi kebanyakan orang tidak seperti itu bukan?

Kemudian dengan fakta seperti ini kita berharap setiap orang yang pernah berkenalan dengan kita selalu menjaga silaturahim minimal dengan menghubungi kita? Realistically, it is very tough. Kita sendiri pun bisa menilai seberapa baik kita melakukannya.

Maka dari itu, sudut pandang yang baik dalam hal membantu sesama adalah: menjadi pribadi yang ringan tangan dan tulus dalam membantu. Dalam hal ini kita diminta untuk mengingat kembali wahyu kedua yang turun, yakni surat Al Muddatsir. Pada wahyu kedua, Rasul diminta untuk memberi tanpa maksud memperoleh imbalan yang lebih banyak.

Di sini, Asa tidak hendak berkata bahwa silaturahim adalah hal yang remeh. Tidak sama sekali. Hanya saja nampaknya kita perlu lebih siap untuk membantu orang lain sebagaimana dahulu para teladan kita mengajarkannya. Kita tidak membatasi wakaf energi kita kepada sesiapa yang menjaga silaturahimnya saja.

Sebab bisa jadi, suatu saat orang yang paling berjasa dalam hidup kita justru mereka yang sama sekali tidak pernah menyapa kita sebelumnya.

Pun begitu cukupkah kita menjadi pribadi yang siap membantu saja? Tidak. Sebagai orang yang senantiasa dibantu oleh sekeliling kita, kita juga harus bisa menjadi pribadi yang pandai membalas budi.

On frame: Pahlawan kita, Bapak Sariban

----------------------------------------------
Thought on Helping Others
Pena 1. Tangan yang Siap Membantu
Pena 2. Pribadi yang Pandai Membalas Budi

No comments:

Post a Comment