Ya, namanya saja manusia. Sedikit banyak ia memiliki dorongan untuk bisa tampil atau mendapatkan pengakuan dari manusia lainnya meski bentuk pengakuan itu berbeda-beda. Itu sebabnya dalam mendesain cita-cita, dunia kerja, profesional atau bisnis tak sedikit di antara kita ingin bisa menjadi pembawa pengaruh besar (influencer) di sana. Ibarat tokoh utama dalam film-film yang menjadi pahlawan dan fokus cerita. Salahkah menjadi influencer? Tidak. Ia memiliki keutamaan sesuai dengan porsi dan niatnya. Begitupula menjadi seorang komplemen.

Masalahnya adalah Saya merasa hal seputar influence ini terlalu banyak disampaikan sehingga bahasan mengenai sifat komplemen yang menjadi sunnatullah seolah terabaikan dan tidak istimewa padahal ia adalah bagian dari sebuah sistem yang besar. Karena ia terpinggirkan maka kita memiliki pandangan bahwa menjadi seorang komplemen tidaklah keren, tidak punya manfaat besar atau tidak signifikan.

Dari tadi berbicara komplemen memangnya apa yang dimaksud dengan komplemen? Dalam Oxford Dictionary, terdapat dua makna complement yang amat menarik:

(1) A thing that contributes extra features to something else in such a way as to improve or emphasize its quality.
(2) A number or quantity of something, especially that required to make a group complete.

Sifat dari komplemen adalah menyempurnakan dan meningkatkan kualitas. Perenungan Saya terhadap bagaimana Allah mendesain dunia, juga terhadap sejarah membawa saya pada kesimpulan ini: 
Sebaik apapun seorang influencer, komplemen akan senantiasa dibutuhkan untuk melengkapi. Dan keduanya sama-sama mulia.
Aku memikirkan...

Jika Allah menghendaki, Allah mungkin akan mencukupkan penciptaan Nabi Adam saja sebagai khalifah di muka bumi. Tapi tidak begitu. Allah ciptakan Hawa sebagai komplemen bagi Adam. Keduanya memuliakan Allah sehingga Allah memuliakan mereka. Tabaarak Ar-Rahmaan.

Jika Allah menghendaki, Allah mungkin akan menyempurnakan kualitas pribadi Nabi Musa sebagai rasul bagi umatnya. Namun Allah memberikannya kekurangan yang kemudian disempurnakan dan dikuatkan dengan kehadiran seorang komplemen bernama Nabi Harun. Keduanya memuliakan Allah sehingga Allah memuliakan mereka. Tabaarak Ar-Rahmaan.

Rasulullah adalah rasul yang tangguh lagi sempurna dalam banyak aspek kehidupan. Dari sekian banyak ummul mukminin, Rasulullah paling mencintai Khadijah sebab sifat komplemennya yang sempurna sebagai supporting system tugas besar kenabian: Membenarkan kala yang lain mendustakan, menguatkan kala yang lain menjatuhkan, menemani kala yang lain menjauhi. Begitu pula dengan karakter dan peran Abu Bakr bukan?

Contohnya banyak menunjukkan peran perempuan ya? Ah bisa jadi kamu pun sudah memahami salah satu alasan mengapa tulisan ini dibuat.

Di tengah dunia yang saat ini mengukur berbagai macam standar kesuksesan dengan standar maskulin, menjadi komplemen terasa tidak prestis dan menekan hak perempuan untuk berprestasi. Padahal menjadi komplemen yang baik sejatinya juga merupakan prestasi. Selain itu, alasan lainnya sebab memang sejak awal orang-orang komplemen tidak mengejar hal tersebut. Mereka berbahagia melihat orang lain berkembang, tulus dalam mendukung, bersemangat untuk mewarisi impian mereka.

Maka yang perlu kita munculkan di tengah umat tidaklah hanya seorang tokoh influencer dalam sebuah episode kehidupan. Tapi juga memunculkan tokoh-tokoh komplemen yang menguatkan bahkan menjadi penyebab tokoh utama itu ada dan bisa sampai pada tahap tersebut. Sebagaimana kita memahami tokoh pada sebuah peristiwa sejarah: Jangan melihat suatu masa sebagai jasa dari seorang tokoh utama saja, tapi pelajari generasinya dan generasi yang mendidik sang tokoh.

Bukan seorang influencer atau tokoh utama?
Tak mengapa, jadilah komplemen yang mulia!
Ibarat fusion goten dan trunks, komplemen ada untuk menyempurnakan

No comments:

Post a Comment