Ayah Sang Raja Tega

Di Depok, setidaknya terdapat 4000 kasus gugat cerai dalam satu bulan. 
Kenapa gugatan ini begitu banyak jumlahnya? Diantara penyebab utamanya adalah Ibu yang memiliki kemampuan finansial sehingga tanpa Ayah pun rasanya keluaga tidak akan apa-apa. Inilah akibatnya jika ayah membatasi tugasnya untuk hanya mencari nafkah. Padahal terdapat peran lain yang juga dimiliki seorang Ayah, yakni peran sebagai seorang pendidik.

Kenapa topik menjadi raja tega perlu untuk dibahas dan diketahui seorang Ayah? Dewasa ini, kehidupan kita rasanya semakin keras akan tetapi sebaliknya, pendidikan justru terasa semakin lembek. Logikanya jika hidup bertambah keras maka pendidikan juga perlu dibuat lebih keras agar lahir manusia-manusia tangguh dari proses penempaan dalam lingkungan pendidikan. Sebagian orang tua saat ini berdalih bahwa zaman sekarang dan zaman dahulu amat berbeda. Dahulu seorang anak dikasih tau sesuatu dapat lebih mudah untuk menurutinya namun sekarang tidak. Lalu hal ini menjadi alasan sulitnya mendidik anak.

Saat ini lembaga pendidikan anehnya berperan seperti segala sesuatu dibuat "seolah-olah". Ingin pendidikan berbasis alam namun yang saat ini kita buat adalah sekolah alam yang "alam-alaman". Bedanya jika sekolah konvensional belajar di dalam ruang, tapi sekolah alam belajar di luar ruang, di saung atau sebagainya.

Induk rajawali apabila ingin mendidik anaknya terbang, maka ia lakukan dengan cara mendorong anaknya dari sarang agar ia terbang karena nalurinya sebagai seekor burung rajawali. Sayangnya pendidikan alam yang ada saat ini justru membuat anak rajawali belajar di kelas. Dibuatlah seolah-olah sang anak hendak terbang padahal diberi pengaman, dipakaikan helm, dan diberikan matras empuk di bawah. Hal yang sama terjadi pada sekolah kewirausahaan. 

Hasilnya? Kenapa tidak lahir sosok yang diharapkan?
Karena pendidikan kita kurang tega, semuanya dibuat seacara simulatif.
Contohnya:
Seorang anak sudah kelas 4 SD akan tetapi masih diantar jemput oleh orang tuanya. Bahkan meski diminta menggunakan angkutan umum, orang tua masih mengamankan dan mengawasi dari kejauhan hingga tawakkalnya justru berkurang kepada Allah. Di sekolah alam Jingga, ada permintaan dari sekolah bahwa anak harus naik angkutan umum. Tapi yang terjadi saat ini orang tua justru mengantarkan sang anak menggunakan aplikasi grab dan gojek.

Metode pendidikan banyak mengalami kegagalan karena kurang tega.

Tega bukan berarti bahwa kita harus bisa menjadi sosok yang kejam, akan tetapi tega di sini adalah pemaksaan yang berasal dari rasa kasih sayang. Apabila dalam QS An Nur ayat ke-2 dijelaskan bahwa laki-laki dan wanita melakukan perbuatan zina sehingga harus dicambuk maka jangan sampai belas kasihan menyebabkan kita urung dalam menegakkan hukum Allah.

Kenapa peran tega tidak ada? Karena Ayahnya tidak hadir dalam lingkungan pendidikan keluarga. Adapun tugas dari Bunda adalah memulihkan efek yang ditimbulkan dari sikap teganya Ayah kepada sang anak. Jika diuraikan lebih lanjut maka penyebab hilangnya peran tega adalah...

Pertama, anak tidak didefinisikan dalam dua sisi

Definisi seorang anak perlu dilihat dari dua sisi: sia sebagai seorang anak dan sebagai calon orang dewasa. Definisi seperti ini membuat kita menyadari dua hal sekaligus. Sebagai anak kita lindungi mereka dari human trafficking, bullying dsb. Sementara itu sebagai calon orang dewasa maka kita juga perlu melindungi haknya untuk ditempa, belajar, tangguh, dan matang. Jangan sampai secara tidak sadar ternyata selama ini kita merampok hak anak untuk dewasa, mandiri, dan tangguh.

Contoh di lapangan akan perbedaan definisi dan mindset ini dapat terlihat dari KPAI dan LPAI yang diasuh oleh kak Seto crash dalam hal ini. KPAI berkata bahwa anak tidak bisa dipekerjakan, sementara LPAI berkata bahwa bekerja bisa menjadi sarana belajar mencari nafkah hingga siap menjadi orang yang lebih dewasa.

Ada dua pendekatan yang efektif untuk dilakukan dalam pendidikan kedewasaan anak:
- Organisasi
- Bakat

Seorang anak pada usia 1 hingga 3 SD banyak kita bina untuk memahami tanggung jawab personalnya. Sementara selebihnya, anak-anak diajak untuk memahami tanggung jawab sosialnya di tengah lingkungan dan masyarakat.

Kenapa tega menjadi peran yang diemban laki-laki?
Jika muncul pertanyaan semisal, "Bagaimana kalau kita bertukar peran? Ibu jadi sang ratu tega, sementara bapak jadi sang penyayang?" Jangan mempercepat terjadinya kiamat. Jika kita amati beragam hadist yang bercerita soal kiamat, maka akan kita dapati kiamat kecil banyak menerangkan soal perangai manusia yang sudah tidak sesuai fitrah sementara kiamat besar soal hak prerogatif Allah.

Kedua, adanya kemapanan

Kemapanan membuat orang tua tidak tega memberikan masa sulit kepada anak. Itu sebabnya menikah di masa dimana seseorang belum memeperoleh masa mapan adalah pilihan yang bisa diambil. Tujuannya agar anak-anak dibesarkan bersama dengan kesulitan yang ada dan merasa kenyang merasakan betapa keajaiban dari kekuasaan Allah. Jangan sampai kita meninggalkan generasi yang tidak paham bahwa hidup adalah perjuangan.


Ketiga, kelirunya perspektif soal kehidupan

Saat ini, orang tua punya pendapat bahwa dunia ini begitu jahat dan negatif. Padahal rasanya hidup masih indah seperti dahulu saat mereka masih muda. Ada banyak hal negatif, tapi juga ada banyak sisi hidup yang positif. Diatara bukti begitu baiknya dunia adalah di dalam Al Quran, Allah bercerita bahwa semua yang ada di langit dan bumi masih muslim.

Selain itu, saat dunia punya banyak godaan hidup, Allah juga memberikan di dunia beragam modal untuk bertahan hidup.

Yusuf Qardhawi mengatakan bahwa manusia lahir dengan bekal minimal yang disesuaikan dengan kapan dia hidup dan di mana dia hidup. Selesai perang dunia pertama terjadi wabah malaria yang dahsyat di seluruh dunia hingga rasanya manusia bisa punah. Di kemudian hari kita mengetahui bukan manusianya yang punah, tapi malarianya yang berangsur punah. Mengapa bisa seperti itu? Yang terjadi berdasarkan sebuah penelitian di dunia medis justru menunjukkan bahwa imunitas anak yang lahir di masa itu lebih imun terhadap malaria daripada mereka yang belum lahir. Inilah salah satu bukti bagaimana Allah mempersiapkan manusia untuk hidup sesuai dengan tantangan zamannya.

Termasuk dalam hal moral, ada moral immunity juga yang Allah bekali kepada anak-anak. Allah bukan prima causa yang melepas sesuatu tanpa dibekali apapun begitu saja.

Sekarang perspektif kita dibuat keliru oleh media. Saat seharusnya dunia anak menjadi dunia petualangan, tetapi orang tua justru menganggap petualangan sebagai sesuatu yang mengerikan. Padahal anak anak sedang melalui masa transisi dari dunia imajinasinya ke dunia eksplorasi. Hasil dari masa transisi itu adalah petualangan. Hari ini, karena tidak ada petualangan yang memuaskan dunia eksplorasinya akhirnya mereka beralih ke gadget. Yang dicari di gadget ya games tentang petualangan.

Keempat, rumah terlalu nyaman bagi seorang anak

Di Indonesia terdapat dua negeri yang nyaman: Minang dan Priangan. Itu sebabnya dari budaya minang dan priangan lahir tokoh seperti Pak Kabayan dan Bak Belalang yang menggambarkan kemalasan dan kenyamanan dua negeri tersebut. Di Minang, hal ini terobati dengan adanya budaya merantau. Namun, sebelum berangkat merantau mereka diajar terlebih dulu di dalam Surau selama kurang lebih 1 tahun lamanya.

Jika terdapat sebuah tempat yang nyaman, seseorang perlu disadarkan dengan apa yang menanti di kemudian hari apabila mereka terlalu bernyaman diri. Di sinilah pentingnya pendidikan konsekuensial. Contoh kasusnya dapat kita terapkan kala seorang anak tidak mau berangkat sekolah. Di rumah suruh saja ia mencuci piring, ngepel, belanja dan lain sebagainya sambil berkata, "Kamu sejak sekarang harus belajar jadi pembantu, karena kalau gak sekolah kelak pekerjaan yang bisa kamu lakukan adalah bersih-bersih sebagai OB."

Fungsi dari sekolah sebenarnya mengimbangi kenyamanan di rumah. Kalau ada hal-hal yang tidak tega kita lakukan kepada anak maka serahkanlah kepada sekolah. Jadi berikanlah hak kepada sekolah untuk mendidik anak. Jangan justru terlalu membatasi sekolah untuk menempa anak atau mengancam sekolah akan diperkarakan ketika anak mendapatkan medan candradimuka yang membuatnya jera.

Ada budaya di pesantren jaman dahulu yang menarik maknanya. Orang tua kala menitipkan anaknya di sebuah pesantren terkadang juga sambil menitipkan sekantung beras dan tongkat. Maknanya, sang anak dititipkan dengan perbekalan beras yang sudah disiapkan orang tua agar ia bisa belajar dengan baik, selain itu apabila sang anak bermasalah maka hak untuk menegaskan dengan tongkat juga diberikan kepada pesantren.

--------------------------------
Majelis Luqmanul Hakim
Pena 1. Dicari, Lelaki Luqmanul Hakim
Pena 2. Luqmanul Hakim dan Peran Ayah dalam Pendidikan Anak
Pena 3 Ayah, Arsitek Visi Keluarga
   - Merancang Visi Keluarga
Pena 4. Pendidikan Iman
   - Metode Pendidikan Iman kepada Anak
   - Membangun Mahabbatullah
Pena 5. Sang Raja Tega
Pena 6. Konsultan Bunda
Pena 7. Pendidik Kemandirian
Pena 8. Penanggungjawab Pendidikan
Pena 9. Pendidik Sistem Berpikir
Pena 10. Pendidik Kewirausahaan
Pena 11. Smart Mencari Nafkah

No comments:

Post a Comment