"Agama insya Allah bisa menyusul sambil belajar bareng. Tapi soal kecantikan, itu sudah dari sananya."

Mendengar pernyataan seperti ini dari seseorang yang hendak melanjutkan tahap kehidupan ke jenjang pernikahan amat mengkhawatirkan. Kenapa? Khawatir pernyataan seperti itu justru menunjukkan keangkuhan kepada Allah sebab merasa bahwa hidayah dapat dengan mudah diperoleh dan diberikan. Padahal sejak awal kita tidak memiliki kemampuan mendatangkannya. Sementara itu tentu kita paham bahwa hidayah tidak bisa digampangkan begitu saja terlebih jika selama ini kita berkecimpung di dunia dakwah.

Barulah akan terasa betapa mencelakakannya kalimat seperti itu ketika sudah menikah dan kita mencoba membimbing pasangan namun ia tidak kunjung berubah menjadi lebih baik. Kesepakatan di awal akan berhenti merokok, hingga menikah masih sulit berhenti. Janji di awal akan bersama-sama merutinkan tilawah, ternyata meluangkan pun tidak. Berkomitmen hendak berhenti menggombal orang lain, setelah menikah kebiasannya tidak berkurang. Bahkan justru semakin banyak keburukannya sebab sebelum menikah ia masih menjaga sikap di hadapan orang lain untuk menarik perhatian. Namun setelah menikah, hal itu tidak lagi terlalu dipikirkan. 


Pada masa dimana kecantikan dapat lebih mudah ditemukan di mana-mana akibat menjamurnya media sosial, yang mampu membuat kita berpikir lebih waras adalah ilmu. Maka mari berdoa kepada Allah agar senantiasa diberikan kemampuan untuk menilai manusia lebih jauh. Tak terburu bergegas hanya karena pandang sepintas.

Tidak terburu-buru karena lentiknya mata tapi mari lihat bagaimana caranya memandang dunia.

Thought?

No comments:

Post a Comment