Olah Ragu

Saat SMP, rasanya untuk bisa melakukan suatu kebaikan itu cukup berat dikarenakan ada beragam keraguan yang membuat Saya maju mundur. Hal yang paling besar terasa membuat Saya ragu kala itu adalah "pandangan orang lain".

Dahulu, kereta lokal Rancaekek Bandung belum sebaik sekarang. Gerbong yang terbatas, penumpang yang seolah tidak dibatasi, suhu yang panas tanpa AC membuat gerbong kereta terasa begitu menyiksa. Pernah sekali Saya temukan seorang bapak tua sampai pingsan di dalam pengapnya keramaian. Asa muda suatu ketika mendapat kesempatan untuk bisa duduk di salah satu kursi dengan nyaman. Amat jarang rasanya dapat kesempatan duduk di kursi karena biasanya Saya selalu mendapatkan bagian berdiri. Berdirinya tidak masalah, pegal membawa tasnya lah yang bermasalah.

Kemudian di tengah kesempatan dapat duduk nyaman seperti itu, terdapat seorang ibu beserta anaknya yang masuk gerbong dan mendapati seluruh kursi telah penuh. Asa yang melihat keadaan seperti itu mengalami peperangan mental di pikirannya. Ada rasa ingin membantu dan memberikan kursi kepada sang ibu, akan tetapi keinginan tersebut terhalang asumsi pendapat orang lain,

"Wah sok pahlawan nih."
"Ah elah, semua juga seneng dapet tempat duduk."
"Cari perhatian amat tuh orang."

Adalah kalimat-kalimat yang saya pikirkan dari orang lain apabila Saya berinisiatif untuk membantu sang Ibu. Pada akhirnya, ketidakmampuan saat itu untuk menepis keraguan menjadi hal yang disesali sebab alhamdulillah ada orang lain yang mengambil kesempatan berbuat baik memberikan kurisnya kepada ibu itu.

Sejak saat itu, Saya selalu berusaha lebih mendengarkan dorongan hati dan mengabaikan asumsi tanggapan orang lain.

"Riya" ujar ustadzku, "apabila kamu beribadah karena ingin dilihat manusia dan kamu menghentikan niat beribadah juga karena dilihat manusia." 
Saya tercenung. Dahulu Saya mengira bahwa riya hanya berlaku apabia kita beribadah karena ingin dilihat oleh orang lain. Ternyata tak jadi beribadah pun bisa terkena riya. Astaghfirullah.

Di kemudian hari, Aku menjadi semakin bersemangat untuk menjadi yang pertama dalam melakukan inisiatif kebaikan. Kenapa? Saat kita mampu mengawali sebuah kebaikan, orang lain yang pada mulanya ragu untuk membantu akan tergerak juga untuk mengikuti karena sudah ada yang memulai.

Intinya… engkau beribadah sepenuh jiwa. Dengan atau tanpa dilihat orang lain sekalipun. Engkau tetap maju, dengan atau tanpa dilihat orang lain. Tepis keraguanmu, terus bergeraklah.

No comments:

Post a Comment