Kaderisasi Karya Salman ITB


Setelah membahas Salman sebagai melting pot dan bagaimana pelayanan diberikan di sana, sekarang kita membahas bagaimana "pendidikan" kepada mahasiswa yang aktif di sana dilakukan melalui proses kaderisasi hingga output yang dihasilkannya.

Kaderisasi

Masjid Salman sejak dahulu dikenal sebagai masjid kaderisasi yang mencetak dan mengembangkan mahasiswa yang terlibat dalam aktivitas di sana. Salman tidak dikenal sebagai masjid masyarakat yang diisi oleh warga sekitar dan dimakmurkan oleh warga sebagaimana masjid Jogokariyan Jogja. Salman diisi oleh mahasiswa, itu sebabnya masjid Salman disebut sebagai masjid kampus. Bagaimana kurikulum kaderisasi di masjid ini dibuat? Seperti apa kontennya? Radikalkah?

Sebagai salah satu tim yang terlibat dalam diskusi grand design kederisasi, Saya akan menjelaskan konsep kaderisasi di masjid Salman secara sangat singkat. Salman memiliki misi salah satunya untuk mencetak figur pemimpin. Untuk menurunkan kebutuhan mencetak figur tersebut dipilihlah nabi Muhammad sebagai figur pemimpin paripurna yang seimbang dan prima dalam beragam bidang kehidupan.

Nilai utama yang diturunkan dalam konsep kaderisasi di masjid Salman berasal dari 4 sifat nabi: amanah, shidiq, fathonah, tabligh. 

Keempat nilai tersebut didefinisikan menjadi kualitas nilai professional, spiritual, intelektual dan sosial.

Bentuk programnya sebagaimana yang bisa didapati dalam kaderisasi lainnya seperti ormas atau partai, sifat kaderisasi di Salman juga berjenjang. Berawal dari jenjang jama’ah, naik ke jenjang aktivis, hingga berikutnya ke tahap kader. Semua mahasiswa yang mengaku sebagai kader salman melewati dua proses kaderisasi terpusat bernama Salman Spiritual Camp (SSC) dan Latihan Mujtahid Dakwah (LMD).

Dalam kegiatan SSC, seorang jama’ah akan diberikan satu set pemahaman yang akan merubah sudut pandang seseorang dalam memandang hubungan antara manusia dengan Allah, manusia dengan semesta dan manusia dengan peradaban. Bagaimana posisi kita di tengah ketiga hal tersebut, bagaimana cara yang benar dalam melihat ketiganya, apa peran kita di sana. Sementara dalam LMD, kemampuan berijtihad kecil-kecilan (bukan ijtihad ilmiah seperti fatwa fiqih), menemukan tanda yang Allah berikan untuk dipelajari, kepemimpinan, team work dan problem solving menjadi poin prosesnya.

Pasca kegiatan kaderisasi terpusat, seluruh kader akan dihadapkan dengan dua tipe kegiatan: invention tradition (inventra) dan kaderisasi lanjut. Dalam inventra, kader akan berhadapan dengan satu masalah nyata di bidang dakwah dan atau masyarakat lalu memberikan solusi dari masalah yang ada, sementara kaderisasi lanjut mengajak kader untuk bisa mempersiapkan dengan lebih matang kehidupan pasca kampus mereka. Itu sebabnya bentuk kegiatan pasca kampus yang ditawarkan Salman untuk mahasiswa berupa forum karir aktivis yang akan menekuni salah satu dari 5 bidang yang disiapkan: intelektual, entrepreneur, politisi, sosial kemasyarakatan, professional.

Tidak ada di Salman baiat atau forum tersembunyi yang mengharuskan seorang anggota bertindak ini dan itu. Tidak ada materi kurikulum yang kontroversial, atau hal lain sebagainya yang mungkin selama ini kamu pikirkan. Apalagi ajakan untuk melawan pancasila atau merusak NKRI. Secara jelas, dalam kegiatan Latihan Mujtahid Dakwah Nasional angakatan 199 pemateri yang ada saat itu, Prof. Dr. K.H. Muhammad Sirajuddin Syamsuddin, M.A. yang dikenal juga sebagai bapak Din Syamsuddin menyatakan bahwa Pancasila tidak bertentangan dengan nilai yang dianut seorang muslim. Bahkan usaha menjauhkan muslim dari Pancasila yang juga dilahirkan salah satunya melalui peran tokoh-tokoh muslim tidak bisa dibiarkan. Merawat nilai-nilainya adalah usaha merawat bangsa, namun juga berperan sebagai usaha merawat nilai-nilai agama. 

Terkait sikap mahasiswa dan pemikiran aktivis di masjid Salman, dalam masa-masa tertentu tidak jarang ada orang tidak dikenal secara acak bertanya kepada mahasiswa yang berada di Salman terkait pancasila, NKRI, khilafah dan lain sebagainya. Entah untuk menguji, atau intelijen yang tengah bergerak. Tidak ada yang tau pasti.

Pun dengan beragam hal yang saya sebutkan terkait kaderisasi... Jumlah kegiatan, jama'ah hingga aktivis mahasiswa yang amat banyak setiap tahunnya, tak bisa dipungkiri bahwa mekanisme kontrol mendetail untuk mengecek satu per satu jama'ah atau mahasiswa amat sulit dilakukan. Pun sudah melakukan seleksi seperti wawancara dsb untuk mengontrol mahasiswa yang beraktivitas di sini tetap saja ada begitu banyak hal yang tidak bisa tergali hanya dalam proses wawancara yang terbatas.

Belajar dari satu guru saja bisa menghasilkan beragam murid dengan pemikiran yang berbeda seperti Ir Soekarno, Sukarmaji Marijan Kartosuwiryo, Semaun dan Munawar Musso yang berguru kepada Haji Omar Said Tjokroaminoto.

Jika didapati satu dua jama’ah atau aktivisnya yang berpikiran radikal bisa saja terjadi. Tapi tidak bijak nampaknya jika hanya karena sedikit orang tersebut maka hal itu mewakili Salman secara institusi. Jika ingin bermain demikian, mari sebut beragam kampus ternama di Indonesia sebagai pencetak koruptor disebabkan banyak alumninya yang tertangkap basah KPK melakukan tindak pidana korupsi.

Semangat Berkarya untuk Bangsa

LMD sebagai salah satu proses kaderisasi terpusat yang ada di Salman mengajak para aktivis untuk bisa memiliki semangat berkarya, menjadi goal setter hingga seorang problem solver di tengah masyarakat. Semangat ini dapat terlihat dari kiprah dan peran Salman selama ini dalam beragam kondisi.

Diantara sekian banyak bidang wakaf yang biasa diluncurkan oleh lembaga ZISWAF seperti pembangunan masjid, pesantren dsb. Salman melihat potensi besar yang belum banyak tergarap oleh umat yakni rumah sakit. Project wakaf ini pun menjadi salah satu fokus program wakaf di masjid Salman ITB. Nilai rahmatan lil 'aalamin perlu dibangun dengan beragam sudut perhatian kepada masyarakat. Kita tidak bisa teramat fokus pada masjid, pesantren dan beragam infrastruktur keagamaan lainnya tapi mengabaikan fasilitas dasar lainnya yang amat masyarakat butuhkan.

Bicara kiprah dalam bidang seni budaya, Salman mungkin menjadi satu-satunya lembaga masjid di Indonesia yang merilis sebuah film layar lebar. Iqra nama filmnya, film keluarga ini menggaet beberapa artis seperti Neno Warisman sebelum ia terjun langsung dalam kampanye pemilihan presiden 2019, Cok Simbara hingga Maudy Koesnaedi.

Di tengah kondisi krisis corona, Salman juga kembali menunjukkan kiprahnya untuk bangsa. Dr Syarif Hidayat yang mana beliau merupakan eks ketua YPM Salman menjadi pionir pembuatan ventilator murah berkualitas yang dinamakan Vent-I, ventilator Indonesia. Harga ventilator yang semula bernilai 300 jt itu kini dapat diperoleh dalam harga 15-25jt saja. Muh Faiz Ghifari, alumni Salman yang saat ini menjadi CEO dari Bubays.id membuat aplikasi Butuh Driver untuk membantu ojol mendapatkan order dengan pembayaran penuh.

Di lain tempat, berbagai alumni mudanya pun terus merintis beragam gerak-gerak kemasyarakatan yang menjadi rahmat bagi sekelilingnya. Faisal Syahri Alwi membuat Teman Halal yang menjadi rujukan anak muda dalam memahami konsep halal baik dari segi makanan, fashion, kosmetik hingga medis. Sely Novita membuat gerakan Bidan Berbagi yang menjadi juara dalam ajang kompetisi yang diselenggarakan oleh UNESCO, beberapa yang lain menjadi penggerak desa di Sumedang dan Tanjungsari, penggerak komunitas muslim di luar negeri dan menggerakkan berbagai komunitas yang lainnya dalam bidang yang berbeda-beda.

Saya secara pribadi terdorong dengan semangat Salman dan para guru, Saya bersama banyak sahabat dari Salman dan beragam latar belakang lainnya membuat komunitas belajar pendidikan keluarga untuk anak muda bernama Family Hour indonesia. Sementara itu istri yang juga merupakan seorang alumni aktivis masjid Salman ITB membuat gerakan perempuan cinta lingkungan bernama Inwoment dan mengelola grup belajar ilmu pendidikan keluarga untuk ibu dan calon ibu.

------------------

Penjelasan terkait radikalnya Salman selesai sampai di sini? Belum.
Artikel bersambung berikutnya dapat dibaca di bawah yang tulisannya akan diterbitkan menyusul secara bertahap.

Ada bagian dari Salman yang hendak ditanyakan atau dibahas? Berikan masukan dan pertanyaanmu di komentar ya!

No comments:

Post a Comment