Mati untuk Dikenang


Aku sempat memikirkannya dalam-dalam, semua perkataan para motivator itu tentang kematian. Mereka berbicara tentang...

  • Akan dikenang seperti apa engkau setelah mati?
  • Bagaimana orang lain akan menyebut-nyebut nama kamu?
  • Berapa banyak orang yang akan kehilangan dirimu?
  • Siapa saja yang akan menghadiri pemakamanmu?
  • Akankah dunia berduka tanpa adanya dirimu?
  • Nama seperti apa yang akan engkau ukir?

Dan banyak nada serupa bertanya tentang seberapa hebat kita dahulu dikenal oleh keluarga, sahabat dan masyarakat di sekitar kita. Akan tetapi kemudian Aku menyadari, bahkan sehebat-hebatnya orang yang wafat di sekitar kita, mungkin pada akhirnya seiring berjalannya waktu nama mereka akan lebih banyak diingat dan dikenang oleh sebagian kecil manusia saja.

Orang-orang yang menangis atau kehilangan diri kita saat kita dimakamkan mungkin tidak akan lagi merasa kehilangan seperti itu dalam waktu 5 tahun, 1 tahun, 1 bulan, bahkan 1 pekan setelah kita meninggal. Life goes on! Mereka sadar bahwa berlarut dalam kesedihan tidak akan membawa mereka beranjak kemana-mana. Tangisan mendalam hanya memuaskan nafsu sesaat untuk meluapkan emosi yang meledak dalam jiwa. Bahkan lebih pragmatis lagi, mereka yang sebenarnya tidak begitu merasa kehilangan menunjukkan ekspresi murung dan sedih untuk berempati saja. Nampak kehilangan, walau hati tak berkata demikian.

Nama dari para pendahulu kita yang masih harum hingga saat ini mungkin hanya beberapa saja. Orang nomor dua, tiga di antara mereka tidak akan banyak tersebut meski perannya mungkin justru lebih besar daripada sang tokoh utama. Kita mengenal dengan baik Imam As Syafi'I, tapi tidak dengan ibundanya; Kita mengenal Shalahuddin, tapi tidak dengan Ibnu Asakir atau Syirkuh; Kita mengenal Muhammad Al Fatih, tapi tidak dengan syaikh 'Aaq Syamsuddin.

Itu sebabnya jika hidup kita bergerak untuk mencari pengakuan mereka mungkin namamu baru sering tersebut dalam lembaran sejarah kala kamu menjadi presiden, bukan menterinya; Panglima perang, bukan bawahannya; Seorang maniak perang yang menguasai beragam belahan bumi, bukan orang-orang baik, shalih, tulus yang terbunuh bersamaan dengan dentuman bom atau dentingan pedang yang beradu. Kita harus bisa menjadi pribadi dengan karya sebesar Ir Soekarno, Habibie, Umar ibn Abdul Aziz, Ibnu Sina, hingga Al Gore. Bahkan Hitler dan Genghis Khan.

Prestasi magnum opus apa yang hendak kita kejar dalam hidup untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di awal tadi?

Jika yang kita kejar adalah manusia yang menyebut-nyebut nama kita setelah kita wafat, maka inilah faktanya. Kemungkinan diri kita tidak dikenang amat jauh lebih besar. Lantas hal itukah yang kita kejar? Sekali kali tidak.

Adapun diriku mengenal seorang Julaibib, sahabat nabi yang tidak dikenal namun kematiannya membuat seisi langit berduka kehilangan seorang pahlawan kecil dengan jiwa yang besar. Ah, kematian mana yang kita lebih dambakan dari kematian seperti itu?

Memiliki peran besar di tengah umat manusia adalah kebaikan dan rahmat, tapi jika itu membutakan kita dari tujuan akhir bisa jadi ia justru berakhir sebagai laknat. Kita semua berlindung dari kotornya jiwa dan matinya iman saat kita wafat.

Ya Rabb, wafatkanlah kami dalam keadaan muslim dan pertemukan kembali diri kami dengan shalihin.

No comments:

Post a Comment