The Islamic Ikigai

Terakhir kali membahas terkait "ikigai" seorang muslim, gagasanku berhenti dengan grafik bulet bulet yang bisa kamu baca dalam link berikut:

        https://www.yazidfatih.com/2018/12/ibadah-islamic-concept-of-reason-of.html

Akan tetapi seiring berjalannya waktu, pemahamanku terhadap tujuan hidup serta formulasi teorinya pun berkembang menjadi lebih baik dan harapannya menjadi semakin matang. Grafik lama itu udah outdated dan memang sejak awal Asa susun masih ada beragam hal yang mengganjal dalam pikiran Asa terkait gagasan awal saya sendiri. Oleh karenanya dalam tulisan kali ini, Asa akan berbagi revisi yang Asa susun berdasarkan pengalaman dan keilmuan terbaru yang Asa dapatkan.

Dalam tulisan sebelumnya Asa bilang kalau ibadah adalah tujuan hidup kita. Sebenarnya yang bilang bukan Asa sih tapi sudah disampaikan oleh Allah dalam Al Quran. Bicara soal Ibadah sebagai purpose of life, atau purpose of being seorang muslim tidak akan lepas dari dalil. Mengapa? Karena memang dasar dari ibadah adalah ia harus memiliki hujjah (pijakan) untuk dapat berdiri. Itu sebabnya apabila Asa berkata bahwa diagram bulet bulet itu merupakan konsep ibadah, Asa perlu memastikan bahwa setiap hal yang ada di sana memiliki hujjah untuk berdiri. Itu sebabnya dalam gagasan sebelumnya tanpa ragu Asa memutuskan untuk menghapuskan lingkaran "what you can be paid for" sebab harta tidak pernah sekalipun menjadi tujuan hidup seorang muslim. Ia adalah alat berbuat baik.

Kalaupun ada dalil yang mengajak kita menjadi hartawan, maka dalil itu berbicara tentang siapa pemiliknya dan bagaimana kualitas pemilik hartanya. Bukan tentang memiliki hartanya.
Dalam sebuah hadist, Rasulullah bersabda: “Wahai Amr, sebaik-baik harta adalah harta yang dimiliki oleh hamba yang Shalih.” (HR. Ahmad 4/197. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Muslim)

Terus gmana nih Sa revisi gagasan lamanya? Revisinya dirangkum dalam grafik berikut:

Islamic Ikigai by @yazid.fatih

Pertama, Mujahadah

Ia berbicara tentang hal yang dengan tulus siap kamu perjuangkan! Tidak lagi bicara soal apa yang kamu sukai sebab tidak semua yang kita sukai itu baik bagi diri kita. Salah satu esensi dari Islam itu sendiri adalah kerelaan untuk berjuang sebab Islam maknanya adalah tunduk patuh, berserah diri, kerelaan.

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّكُمْ ۚ وَعَسٰٓى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۚ وَعَسٰٓى اَنْ تُحِبُّوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ ࣖ

(Al Baqarah: 216)

Dalam ayat tersebut, Allah sudah sejak dahulu kala memberikan kepada kita peringatan bahwa hal-hal yang kita sukai bisa jadi buruk untuk kita dan begitu pula sebaliknya. Itu sebabnya saya bukan penggemar kata mutiara, "DO WHAT YOU LOVE atau DO YOUR PASSION".

Muhammad Ali tidak begitu menyukai latihan. "I hated every minute of training, but I said, 'Don’t quit, suffer now and live the rest of your life as a champion'." ujarnya. Ia siap berjuang walau hal itu tidak ia sukai. 

Shalahuddin Al-Ayyubi dikenal sebagai pahlawan yang di masa awal kehidupannya ia mencintai dunia sastra, pelajaran agama dan lain sebagainya. Tidak sama sekali terpikirkan dalam benaknya di kemudian hari ia akan memimpin perjuangan memuliakan Baitul Maqdis. "Bagai kambing yang diseret ke penjagalan" adalah testimoninya ketika pertama kali diminta sang paman menemaninya berperang. Dari sana empatinya dengan keadaan umat Islam saat itu tumbuh dan ia bertemu sosok guru seperti Nuruddin Zanki. Ia pun berjuang di sana. 

See? Siap berjuang walau tidak suka. 

Tidak semua orang mendapatkan priviledge untuk mengikuti passion nya atau melakukan hal yang dicintainya. Tapi setiap orang punya kesempatan yang sama untuk memperjuangkan apa yang ia lakukan saat itu.

Kerjakan apa yang kamu siap berkorban di sana meski itu bukan hal yang kamu cintai sekalipun.

Pernah guru Asa menceritakan sebuah kisah nyata tentang orang tua yang kebingungan karena tidak ada satupun anaknya yang mau meneruskan pengelolaan pesantren yang mereka bangun dari nol. Alasannya? Setiap anak tidak melihat itu sebagai passion mereka. Ada dunia lain yang lebih menyenangkan yang mereka temukan di luar sana. Jika saja sang anak siap meneruskan mimpi orang tua terhadap pesantrennya, siap berjuang di sana, Ayah dan bundanya tidak akan kesulitan mencari penerus cita-cita mereka. "Sa, bukankah akan berat dan tidak maksimal jika mengerjakan hal yang tidak disukai." Ya, sedikit banyak bisa jadi akan berpengaruh. Tapi siap bermujahadah di sini ga? Siap kamu perjuangkan ga?

"Kejarlah cita-cita diri sendiri daripada mengejar cita-cita orang lain" itu overrated. Tidak ada yang salah sama sekali dalam meneruskan atau mewarisi cita-cita orang lain. Ambil Muhammad al Fatih sebagai contoh pribadi yang mewarisi cita-cita para pendahulunya.


Kedua, Khaliifah

Ya, kalau kamu agak alergi dengan kata khalifah santai dulu. Khalifah itu artinya bukan imperium wkwk. Secara bahasa akar katanya bermakna pengganti. Secara istilah bermakna pemimpin. Berarti menjadi pemimpin yang Allah amanahkan dalam mengelola bumi dengan baik dan bijak. 

Dalam konteks ikigai ini Ia berbicara tentang kemampuan terbaik dan terdepan yang kita miliki. Sebab menjadi pengganti Allah berarti memiliki kualitas yang ada di atas yang lainnya. Allah mempercayakan pengelolaan bumi (khaliifah fil ardh) sebab kualitas khusus yang dimiliki nabi Adam, yakni ilmu. Kita memilih pemimpin dan menghormati seseorang sebagai pemimpin karena kompetensinya. Apa dalilnya bahwa kita diminta menjadi yang terbaik dalam mengelola bumi?

وَاِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ اِنِّيْ جَاعِلٌ فِى الْاَرْضِ خَلِيْفَةً ۗ قَالُوْٓا اَتَجْعَلُ فِيْهَا مَنْ يُّفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاۤءَۚ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۗ قَالَ اِنِّيْٓ اَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ

(Al Baqarah: 30)

US dan China menjadi negara terdepan dan "pemimpin" dunia karena kapasitasnya saat ini sebagai negara superpower. Dewan fatwa pada MUI diangkat karena kapasitasnya dalam tarjih, ushul fiqih, menganalisa suatu hukum. Direktur atau komisaris suatu perusahaan ditunjuk karena kapasitasnya dalam keilmuan tertentu atau pengalaman terbaiknya dalam industri yang ia kelola sebelumnya. Kita memilih seorang ketua kelas karena kemampuannya untuk mengelola kelas (atau lucu2an aja biar temen kita sengsara disuruh2 dosen atau guru wkwk). 

Singkatnya: khaliifah menggambarkan excellence and expertise.

Pertanyaannya, apa kemampuan terbaik yang kita punya? Apa hal dalam diri kita yang sering mendapatkan rekomendasi atau endorsement dari lingkaran kita?

Siip, tulisan ini akan bersambung ke pembahasan berikutnya ya! Cek di link di bawah ini


--------------------------------------
Reason for Being as Muslim

Pena 1. Ibadah - Islamic Concept of Reason of Being

Pena 2. Islamic Ikigai Revised Part 1

Pena 3. Islamic Ikigai Revised Part 2

No comments:

Post a Comment