Setelah mencoba belajar untuk mengatasi rasa gugup dan memulai, saatnya kita mencoba beragam detail teknis yang bisa dilakukan untuk public speaker pemula. Di sini Asa akan berbagi berdasarkan pengalaman Asa saja. Jadi tidak akan banyak membahas teori dari buku-buku public speaking atau beragam tips dari youtube. Pun demikian semoga tetap bisa memberikan manfaat maksimal untuk perjalanan belajar kamu.


Nol, Kenali dengan Siapa Kamu Bicara

Ini menjadi hal mendasar yang perlu dipahami oleh semua public speaker bahkan yang pro sekalipun. Sebagaimana nabi Muhammad yang selalu menyesuaikan dengan siapa beliau berbicara. Kamu gak akan membahas detil struktur molekul vitamin kepada ibu-ibu yang sedang belajar nutrisi bagi ibu hamil, gak akan bahas kalkulus kepada anak SD, atau ngelawak di tengah simposium formal misalnya.

Pahami siapa yang kamu ajak bicara dan pada momen apa kamu bicara. Sesuaikan public speaking hingga materi yang kamu bawa dengan segmennya.

Pertama, Menjadi Diri Sendiri

Jangan berada di bawah bayang-bayang orang lain. Wah pokoknya aku ingin menjadi seperti itu, gayanya harus seperti ustadz ini, lucunya seperti komika yang di youtube dan lain sebagainya. Tidak ada yang salah sebenarnya dalam mengikuti gaya orang lain untuk belajar, akan tetapi itu memerlukan waktu. Kita perlu nonton banyak videonya, meniru beberapa gesturnya dan lain sebagainya. Padahal...

Kita punya sesuatu yang gak perlu ditiru, yaitu gaya kita sendiri

Gaya setiap orang orisinal dan beda dari yang lain. Kita punya bidang tertentu yang kita kuasai, gaya bicara khas kita, joke receh ala kita, sampai desain presentasi andalan kita. Cobalah keluarkan hal itu dengan percaya diri. Ketika sudah terbiasa berbicara, baru kita mulai mengupgrade gaya lainnya disesuaikan dengan citra yang hendak dibangun. Energik? Lucu? Intelek? Bebas.

Kedua, Ber Power dan Point

Pastikan pesan yang kamu sampaikan punya tujuan, point. Jangan ngawang. Hal ini bisa membantu kita untuk mengevaluasi cara kita mengkomunikasikan ide. Sampai gak ke audience? Kalau kitanya aja gak tau sedang membicarakan apa, kita gak akan bisa mengukur apakah pesan kita sampai atau gak.

Apa goal akhir dari kisah yang kamu ceritakan? Audience jadi ikut berempati kah? Tertawa bersama? Melakukan refleksi diri?

Apa goal dari materi yang kamu sampaikan? Peserta paham ilmu baru? Peserta dapet ide? Dapet semangat hidup? Terinspirasi?

Berpower lebih sulit dilakukan daripada berpoint. Berpower bisa diperoleh biasanya karena kita sudah mengilmui apa yang kita sampaikan dengan sangat baik, melakukannya dalam kegiatan sehari-hari, atau berpengalaman dalam hal tersebut. Berpower ini bisa disebut memiliki daya ketuk. Cara paling umum untuk memiliki daya ketuk adalah berbicaralah dengan tulus, empatik dan rileks. Tulus ingin memberikan ilmu, berempati dengan keadaan peserta atau materi, rileks dalam menyampaikan.

Ketiga, It's OK to Bring a Note

Note itu bagus untuk dibawa karena bisa membantu kamu on track dengan hal yang sedang disampaikan. Ingat ya, note beda dengan bawa seluruh naskah wkwk. Kamu bisa tulis poin-poin penting dari hal yang mau kamu sampaikan atau hal-hal rumit yang sulit kamu hafal misal nama tokoh, nama peristiwa dsb. Buatlah semacam outline. Misal:

Kisah Nabi Yusuf

  1. Disayang orang tua
  2. Dibenci saudara
  3. Masuk ke dalam sumur
  4. Diambil pedagang
  5. Dibeli oknum pejabat
Poin-poin seperti ini bisa membantu kamu on track dalam menyampaikan kisah nabi Yusuf. Jadi gak ketuker atau salah alur cerita.

Kenapa gak direkomendasikan bawa naskah? Biasanya bawa naskah bikin kreativitas dan improvisasi kita lemah karena terpaku dengan naskah yang ada. Membawa seluruh naskah juga tidak bisa melatih atau menguji pemahaman kita terhadap materi yang ingin disampaikan.

Dari sini kamu bisa tau kenapa kebanyakan khutbah jum'at di masjid terasa membosankan. Sangat tekstual. Bahkan bisa jadi kalau penulis naskahnya typo atau autocorrect saat mengetik naskah, ikut terbaca juga oleh khatib.

Keempat, Laugh with The Audience

Biasanya sebagai public speaker pemula, kita merasa gugup atau melakukan beberapa kesalahan. Mungkin salah ucap, kadang termenung diam dalam waktu yang lama karena lupa, atau kesalahan lainnya. Cobalah untuk tertawa bersama audience. "Wah gue jadi gugup nih diliatin sama 40 orang peserta di sini" misalnya. "wah padahal tuh ya semalaman udah saya coba hafalin nama tokoh ini tapi tetep aja lupa, emang udah kaya Dory ya ingatannya jangka pendek." Ada banyak cara kreatif untuk tertawa bersama audience.

Kelima, Keep on Track on Your Own Learning Progress

Pastikan kamu bisa track dan dapat feedback selama kamu berlatih public speaking. Caranya? Buat form evaluasi yang bisa diisi oleh audience. Kalau perlu berikan bonus bagi mereka yang mengisi formulir evaluasi kamu. Misal, dapet PPT materinya, dapet worksheet, ebook dsb.

Dari sini kamu bisa dapat beragam masukan yang membantu kamu mengembangkan teknik public speaking kamu. Bereksperimenlah dalam kesempatan public speaking berikutnya berdasarkan hasil evaluasi yang diperoleh sebelumnya.

Terakhir, Banyak Berlatih

Ini adalah tips paling jitu. Sebab kemampuan public speaking memang bukan kemampuan yang sekali belajar langsung bisa menyampaikan orasi atau khutbah fenomenal. Perlu jam terbang agar kita juga bisa semakin mengenali gaya public speaking kita. Dari mulai materi yang dikuasai, tempo, gaya ngelucu, gestur andalan, kapan merasa gugup dan sebagainya.

Semakin sering berlatih atau mendapatkan kesempatan berbicara, akan semakin baik.

---------------------------------------

Public Speaking

Pena 1. Mulai Berpublic Speaking

Pena 2. Tips Public Speaking Pemula

Pena 3. Tips Public Speaking Tingkat Lanjut

Pena 4. Statistik Menarik Public Speaking

No comments:

Post a Comment