Di antara seluruh manusia di dunia, Engkau memilih pribadi paling bercahaya untuk mengemban risalah kenabian. Namanya adalah yang terpuji. Engkau mencintainya begitupun dirinya yang teramat besar cintanya kepada-Mu. Maka Aku pun mencintai manusia termulia itu, Muhammad

Kemudian di antara manusia yang lain, Engkau memilih pribadi-pribadi paling bercahaya berikutnya. Lalu Engkau jadikan mereka sebagai pejuang-pejuang yang selalu berada di samping pembawa risalah kebenaran. Engkau mencintai mereka dan mereka mencintai-Mu. Maka Aku pun mencintai mereka

Allahumma, selalu Aku merasa teramat jauh diri ini dari para pejuang risalah suci. Meski tak pernah sekali pun bertemu, tapi Aku tahu inilah yang namanya rindu. Rabbi pertemukan Aku dengan mereka kelak di surga-Mu

Tak lama selepas doa itu, Aku terus bertanya-tanya
"Pantaskah?"

Mereka adalah manusia dengan selangit keutamaan
Sementara itu teramat banyak aib diri dan kelalaianku di sana sini
 Belum seberapa ikhtiarku untuk meneladani pribadi-pribadi bercahaya itu
Pun demikian, Aku ingin berusaha membuktikan cintaku pada mereka
Dengan terus berusaha memaknai cinta dalam segerak amal
Sebab yang kutau, takwa adalah cara terbaik membuktikan cinta itu

Dari para Nabi kubelajar untuk menjadi da'i yang mencintai umatnya
Datang sebagai pembawa rahmat, bukan pembawa azab
Lalu Aku belajar menjadi seperti Nabi Muhammad melalui berbagai manusia surgawi
Dari Abu Bakr Aku belajar untuk memiliki hati yang peka dengan kebaikan-kebaikan
Dari 'Umar ibn Khattab Aku belajar memaknai tanggung jawab
Dari Utsman Aku belajar untuk selalu menghadirkan rasa malu di hadapan-Mu
Dari 'Ali ibn Abi Thalib Aku belajar menjadi pribadi yang periang lagi mencintai ilmu
Dari Salman Al-Farisi Aku belajar untuk memiliki kebesaran hati
Dari Shalahuddin Aku belajar bahwa tiada kata terlambat untuk berubah
Dari Muhammad Al-Fatih Aku belajar tuk gapai ridha-Mu dengan ghirah dan obsesi
Teramat banyak teladan yang Engkau hidupkan di tiap generasi
Dari kesemuanya Aku belajar bahwa takwa adalah sebaik-baik bekal
Meski begitu, tetap saja, Aku masih merasa amat jauh dari mereka
Pantaskah bersandingan dengan pribadi surgawi seperti mereka?

Satu yang kutahu pasti, rahmat-Mu lebih luas dari murkaMu
Jika dengan keadaan seperti ini saja Engkau enugerahkan padaku banyak karunia
Maka bagaimana kiranya kala Engkau ridha?
Ya Rabb, apa gerangan yang dapat membuat-Mu ridha?

Hamba-Mu ini rela kemana pun Engkau menuzulkan jasad ini untuk mengisi peran-peran kosong dalam tubuh umat sang nabi. Jika memiliki suatu peran adalah sebuah kebaikan maka arahkan langkahku ke sana, berkahi ikhtiarku untuk meraihnya, berkahi tiap usaha untuk mengemban peran itu. Pun jika meninggal dalam keadaan muslim sudah cukup untuk membuat-Mu ridha, maka anugerahkanlah diriku keistiqamahan hingga akhir hayatku. Sebab kusadar hati ini amat mudah berbolak balik. Namun, Aku pun tahu pasti bahwa Engkau adalah Rabb yang mampu membolak balikkan hati termasuk menjaganya agar senantiasa hanif di jalan-Mu.

Aku kembali bertanya-tanya
"Bagaimanakah?"

Aku pun beriktiar untuk bisa menjadi seorang muslim yang menjadikan dirinya sebagai nafas bagi sekitarnya. Menebarkan manfaat yang menghidupkan, memunculkan rahmat yang tersembunyi, merangkai hikmah yang terabaikan, menjadi da'i yang mencintai umatnya. Menyeru sesama pada kebaikan dengan segenap kemampuan yang ia bisa. Mungkin melalui jalan menjadi penulis, pengusaha atau seorang desainer grafis. Apapun perannya nanti, satu yang ia tau pasti, menjadi da'i adalah profesi yang akan mengabadi.

Ya Rabbanaa
Engkau tunjukkan jalan kebaikan pada sesiapa yang Engkau kehendaki
dan Engkau tutup jalan keburukan pada sesiapa yang Engkau kehendaki
Maka tunjukilah kami pada jalan-jalan yang dapat membawa kami pada ridha Mu
Meski kami tahu, jalan yang lurus adalah jalan yang penuh liku-liku

Ya Rabbanaa
Kesempurnaan hanya milik Mu
Adapun kami adalah hamba hamba faqir
Tiada pernah lepas dari aib dan durja
Maka bimbinglah kami senantiasa

Satu yang kutau pasti
Engkau akan menolong sesiapa yang berusaha menjaga kemuliaan diri

Maka di akhir tiap kata yang dianggit apa adanya, ia memohon kepada Rabbnya
"Perkenankanlah"

Senin, 10 Dzulhijjah 1437 H - 12 September 2016 M
Dalam rindunya pada Baitullah
Dalam rindunya pada perjumpaan dengan shalihin

No comments:

Post a Comment